**Borneonews - Beirut**, Setelah konfirmasi mengenai kematian pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, yang tewas dalam serangan udara Israel di pinggiran Beirut, spekulasi mengenai siapa yang akan menggantikan posisi tersebut semakin meningkat.
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, Hashem Safieddine disebut-sebut sebagai calon kuat pengganti Nasrallah, yang telah memimpin kelompok ini selama lebih dari tiga dekade hingga kematiannya pada Jumat, 27 September. Safieddine, yang merupakan sepupu dari Nasrallah, saat ini menjabat sebagai ketua dewan eksekutif Hizbullah dan dianggap secara luas sebagai figur yang paling mungkin untuk meneruskan kepemimpinan.
Lahir pada tahun 1964 di Deir Qanoun En Nahr, sebuah kota di distrik Tyre, Lebanon selatan, Safieddine dikenal sebagai seorang ulama yang sering mengenakan sorban hitam. Sejak berdirinya Hizbullah pada tahun 1982, ia telah aktif terlibat dalam struktur organisasi tersebut. Pada awal 1980-an, ia pindah ke Qom, Iran, untuk belajar ilmu agama, di mana ia bersama Nasrallah mengembangkan pemahaman mendalam mengenai ajaran Islam.
Safieddine telah disiapkan untuk mengambil alih kepemimpinan sejak tahun 1994, ketika ia dipanggil kembali dari Qom ke Beirut untuk memimpin dewan eksekutif. Dewan ini bertugas menangani berbagai urusan politik dalam kelompok Hizbullah. Dalam lebih dari tiga puluh tahun karirnya, ia telah mengelola banyak aspek penting dalam organisasi, termasuk urusan institusional hingga pengawasan terhadap keuangan dan investasi yang dilakukan oleh Hizbullah, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Safieddine memiliki gaya komunikasi yang menyerupai Nasrallah. Ia dikenal memiliki kehadiran publik yang menonjol dan gaya berbicara yang penuh semangat. Dalam pidato-pidatonya, ia kerap menekankan komitmennya untuk menghadapi dan menanggapi apa yang ia sebut sebagai *agresi* dari Israel. Dalam salah satu pidatonya pada 13 Juli, Safieddine menyatakan, "Jika tugas kami, seperti saat ini, adalah berada di selatan Lebanon melawan musuh ini dan memberikan para martir kami, kami siap untuk mengorbankan segalanya, yakin bahwa Allah akan memberi kami kemenangan seperti yang Dia lakukan pada tahun 2006."
Selain itu, dalam forum publik lainnya, ia menegaskan bahwa "Lebanon terlibat dalam perang melawan musuh Israel tanpa batasan atau syarat." Ia juga berjanji bahwa Hizbullah tidak akan berhenti mendukung perjuangan di Gaza sampai Israel menghentikan serangannya yang telah merenggut lebih dari 41.000 jiwa sejak awal Oktober tahun lalu.
Hubungan Safieddine dengan Iran sangat dekat. Ia tidak hanya menghabiskan waktu bertahun-tahun memperdalam ilmu agama di Qom, tetapi juga memiliki ikatan keluarga dengan mantan komandan Pasukan Quds Iran, Qassem Soleimani. Pada tahun 2020, putra Safieddine, Reza, menikahi Zeynep, putri Soleimani yang telah wafat.
Penting untuk dicatat bahwa pada tahun 2017, Departemen Keuangan Amerika Serikat memasukkan nama Safieddine dalam daftar hitam terkait dengan kegiatan kontra-terorisme. Safieddine menjadi salah satu tokoh kunci dalam Hizbullah, dan langkah ke depan dalam kepemimpinannya akan sangat diperhatikan, mengingat tantangan besar yang dihadapi kelompok tersebut di kancah internasional.
ANTARA
Hashem Safieddine, calon pemimpin baru Hizbullah setelah Nasrallah
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kebakaran di Jalan Pahlawan Marabahan, Api Membesar Dekat Sekolah
Pohon Tumbang dan Bangunan Rusak Diterjang Angin Kencang di Banjarbaru
Hujan Lebat Guyur Banjarbaru dan Martapura
Alwi akan Evaluasi Performa Setelah Terhenti French Open
Ribuan Pesepak Bola Muda Perebutkan Piala Ketua DPD RI
Trae Young Targetkan Wizards Bersaing ke playoff NBA
Komentar (0)
Memuat komentar…







