JAKARTA –
**Borneonews - Damaskus, Suriah**, Serangan udara yang dilancarkan oleh Israel di Lebanon telah menyebabkan ribuan penduduk melarikan diri menuju Suriah. Negara yang sudah terpuruk akibat konflik berkepanjangan ini saat ini menerima arus migrasi yang cukup signifikan. Menurut laporan dari sumber setempat, sekitar 5.000 keluarga Lebanon, termasuk mereka yang berafiliasi dengan Hizbullah, telah menyeberang ke Suriah sejak mulainya serangan Israel pada 23 September. Para pengungsi ini kini menetap di sejumlah desa di sekitar Damaskus, Aleppo, Homs, dan Hama. Wilayah-wilayah ini sebelumnya telah mengalami bombardir berat dan sebagian besar ditinggalkan akibat perang yang berkepanjangan di bawah rezim Assad. Beberapa komite yang berafiliasi dengan Hizbullah di Suriah turut terlibat dalam menampung para pengungsi tersebut. Awalnya, mereka ditempatkan di tempat penampungan sementara, tetapi kemudian secara bertahap dipindahkan ke desa-desa yang telah dilanda kehancuran akibat peperangan. Hüseyin Ali, seorang warga Lebanon yang melarikan diri dari kekerasan, mengungkapkan kepada Anadolu betapa mengkhawatirkannya situasi di Lebanon selatan saat ini. Menurutnya, "Kondisi di Dahiyeh dan di daerah yang didominasi Syiah sudah tidak aman lagi; kami terus diserang karena identitas kami," jelasnya. Ia menambahkan bahwa mereka akan menuju Damaskus, di mana mereka merasa lebih aman, dan mengungkapkan dukungannya kepada Bashar al-Assad. Muhammet Ferruh, penduduk lainnya yang juga memilih untuk melarikan diri, menjelaskan intensitas serangan di sekitarnya. "Saat ini tak ada kerabat saya yang tersisa di desa. Serangan terjadi setiap hari, dan di awal serangan ada banyak serangan besar yang mengincar pusat desa kami," tuturnya. Dia juga merujuk pada kematian 26 orang pada hari pertama serangan yang terjadi. Di sisi lain, seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun bernama Tac Seyyid dari Baalbek, mengungkapkan rasa takutnya terhadap situasi yang sedang berlangsung. "Suara-suara serangan sangat menakutkan. Di Baalbek kami tidak bisa tidur di malam hari, sekarang kami akan pergi ke Damaskus," ungkapnya. Sejak 23 September, Israel telah meluncurkan serangan udara di Lebanon yang mengakibatkan lebih dari 700 jiwa melayang dan hampir 2.200 orang mengalami luka-luka, berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Lebanon. Selain itu, kementerian tersebut juga mencatat bahwa sejak Oktober lalu, jumlah total korban tewas di Lebanon mencapai 1.540, dengan lebih dari 77.000 orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka di wilayah selatan dan timur negara tersebut. Dalam suatu pernyataan yang dirilis pada hari Sabtu, tentara Israel mengklaim bahwa pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, telah "dihabisi" dalam sebuah operasi yang menargetkan pusat komando Hizbullah yang berlokasi di sebuah bangunan hunian di pinggiran selatan Beirut. Hizbullah dan Israel terlibat dalam konflik lintas batas sejak awal serangan Israel terhadap Jalur Gaza, yang telah menewaskan hampir 41.600 orang, mayoritas diantaranya adalah wanita dan anak-anak, setelah serangan pada 7 Oktober oleh Hamas. Masyarakat internasional semakin mengkhawatirkan serangan terhadap Lebanon, karena situasi ini bisa memperluas konflik di Gaza menjadi perang yang berskala regional. ANTARA