TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - I Nyoman Pujangga terlihat sibuk, mengenakan topi anyaman untuk melindungi diri dari sengatan matahari sore. Saat Ketua Karang Taruna Kabupaten Barito Timur, Ariwaratanu, datang mengunjunginya bersama tim pada Sabtu, 26 September 2024, Nyoman yang menyambut dengan senyuman ramah tengah membuat bedengan sayuran.

Tubuhnya yang tegap dan semangat yang terpancar dari matanya menggambarkan seorang pemuda dengan tekad kuat.

Nyoman, yang kini berusia 26 tahun, tak ragu meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk menemani tamunya berkeliling. Mereka menyusuri deretan tanaman kangkung dan bayam yang siap dipanen, hasil kerja keras Nyoman yang kini menuai pujian. 

Namun, perjalanan hidupnya tidak semudah melihat sayuran yang segar tumbuh subur di lahan itu. Dibalik kesuksesannya sebagai petani muda, ada cerita tentang perjuangan, kegigihan, dan tekad yang tak tergoyahkan.

Setelah lulus SMA, Nyoman memilih melanjutkan kuliah di Banjarmasin mengambil jurusan agribisnis. Walaupun ia berasal dari keluarga petani, seperti kebanyakan pemuda seusianya, ada godaan untuk mencari pekerjaan di luar pertanian.

Ia sempat bekerja di perusahaan eksportir plywood sebagai pekerja paruh waktu. Namun, pengalaman bekerja di perusahaan orang lain membuatnya merasa terkungkung.

"Gajinya ditakar, jam kerja ditentukan, dan saya merasa tidak bebas. Saya sadar kalau saya bekerja untuk orang lain, ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah tidak bisa berkembang," kenangnya.

Selepas kuliah, Nyoman membuat keputusan yang cukup mengejutkan bagi banyak orang, ia kembali ke desanya dan memilih bertani. Keputusannya ini tidak lepas dari cibiran. Banyak yang mengatakan,

"Sarjana kok bertani?" Namun, Nyoman tetap teguh pada pilihannya. Baginya, menjadi sarjana bukan hanya tentang gelar, melainkan tentang ilmu yang bisa diterapkan. "Saya jawab saja, saya bertani pakai otak, bukan cuma otot," katanya sambil tersenyum.

Perjalanan Nyoman sebagai petani muda tak selamanya mulus. Ia pernah mengalami kerugian besar saat menanam sawi di musim hujan, ketika daun-daunnya membusuk terkena air hujan yang berlebihan.

Kesalahan dalam mengolah media tanam juga pernah membuat bibit sayurnya menguning dan mati. Meski demikian, kegagalan itu tak pernah membuatnya putus asa. Ilmu yang ia dapatkan selama kuliah justru membantunya bangkit dan menemukan solusi.

Kini, kerja keras Nyoman berbuah manis. Dari lahan yang sederhana, ia mampu meraup keuntungan 7 hingga 15 juta rupiah per bulan. 

“Saya bukan menyombongkan diri, penghasilan saya lebih tinggi daripada orang yang bekerja di perusahaan, lahan yang sedikit di depan, pinggir jalan itu, sebulan saya bisa mendapatkan keuntungan 7 juta,” ujarnya dengan rendah hati. 

Bahkan, Nyoman yang telah dua tahun bertani, tak berhenti belajar. Internet, terutama YouTube, menjadi gurunya dalam memahami teknik baru pertanian, seperti cara membuat pupuk dan mengatasi hama dan penyakit.

Kesuksesannya pun menginspirasi pemuda-pemuda lain di desanya. Nyoman tak segan membagikan ilmu dan pengalamannya, terutama kepada mereka yang ingin menekuni pertanian namun tak memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Baginya, kunci sukses adalah fokus, tekun, dan selalu mau belajar.

"Saya yakin, sukses itu berproses. Seperti bayi yang harus merangkak dan jatuh dulu sebelum bisa berjalan," katanya bijak.

Sebagai Ketua Karang Taruna Desa Sumber Garunggung, Nyoman memiliki impian besar. Ia ingin desanya dikenal sebagai sentra pertanian yang maju, serta bercita-cita membangun unit usaha pertanian di bawah naungan Karang Taruna. 

"Saya ingin Karang Taruna punya perkebunan sendiri, agar kita bisa menggaji anggotanya. Biar mereka semangat bekerja," ungkapnya penuh semangat.

--page

Dengan tekad dan dedikasi yang luar biasa, Nyoman mengatur jadwal tanam sayur-sayurannya dengan cermat. Hasilnya, ia bisa panen setiap hari dan menghasilkan pendapatan yang stabil.

Para pengepul dari Pasar Ampah, Pasar Tamiang Layang, hingga Pasar Buntok di Kabupaten Barito Selatan kerap datang langsung ke kebunnya untuk membeli hasil pertanian tersebut.

Di tengah segala pencapaiannya, Nyoman tetap memegang prinsip yang kuat. Ia percaya bahwa dengan tekad, semangat, dan ilmu yang ia pelajari, pertanian bukan hanya profesi, melainkan jalan hidup yang bisa membawa kesejahteraan bagi dirinya dan komunitasnya.

Nyoman telah membuktikan, menjadi petani modern bisa memberikan lebih dari sekadar penghasilan, melainkan juga kebanggaan dan masa depan yang cerah. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)