JAKARTA –
**Borneonews - Doha**, Lebih dari seribu warga Lebanon telah kehilangan nyawa akibat serangan udara yang dilakukan oleh Israel dalam kurun waktu dua belas hari terakhir. Hal ini diungkapkan oleh Firas Abiad, Menteri Kesehatan sementara Lebanon, pada hari Sabtu. Menurut keterangan Abiad, antara tanggal 16 hingga 27 September 2024, tercatat sebanyak 1.030 orang telah tewas, termasuk 56 wanita dan 87 anak-anak. Selain itu, jumlah korban yang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut mencapai lebih dari 6.300 orang. Data yang dirilis menggambarkan betapa parahnya dampak kebrutalan yang ditimbulkan oleh rezim Zionis sepanjang periode itu. Di antara mereka yang meninggal, terdapat juga 41 pekerja kesehatan dan petugas darurat yang turut menjadi korban. Dalam serangan yang terjadi pada hari Jumat, 27 September, tercatat sebelas orang tewas dan 108 orang mengalami luka-luka. Serangan itu juga dilaporkan menyebabkan kematian pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah. Organisasi Hizbullah kemudian mengonfirmasi bahwa Sekretaris Jenderal mereka, Nasrallah, telah gugur akibat apa yang mereka sebut sebagai *serangan Zionis yang licik* di kawasan pinggiran selatan Beirut. Hizbullah mengeluarkan pernyataan resmi yang mengungkapkan rasa duka atas kepergian Nasrallah, menjelaskan bahwa ia telah bergabung dengan rekannya yang telah menjadi martir. Pernyataan tersebut menyoroti peran penting Nasrallah dalam perlawanan melawan Israel dan perjuangannya selama hampir tiga puluh tahun yang telah mengisi hidupnya dengan semangat untuk membebaskan Yerusalem dan Palestina. Mereka juga menyebutkan bahwa *kemartiran* Nasrallah kini menjadi bagian integral dari pesan perjuangannya. Dalam konteks yang lebih luas, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menilai pembunuhan Hassan Nasrallah sebagai sebuah *tindakan keadilan*, yang sekaligus menegaskan kembali dukungan pemerintahannya terhadap Israel dalam menghadapi ancaman yang ditimbulkan oleh Hizbullah. Keadaan di Lebanon, terkait dengan kondisi keamanan dan kemanusiaan yang semakin memburuk, menjadi perhatian internasional. Data terbaru memperlihatkan betapa mengerikannya situasi tersebut, terutama bagi warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik. ANTARA