JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Bulan Agustus 2024 akan dikenang sebagai momen penting bagi Komunitas Tunarungu Indonesia, di mana mereka mendapatkan pengakuan internasional atas peran serta kontribusinya. Hal ini terkait dengan upaya literasi bahasa isyarat dalam pengajaran Al-Qur'an, yang menjadi fokus perhatian para pemangku kepentingan. Sebagai bagian dari masyarakat berkebutuhan khusus, Komunitas Tunarungu Indonesia telah menunjukkan dedikasi dan kontribusi yang signifikan dalam bidang pendidikan. Upaya ini tidak hanya berdampak pada masyarakat Indonesia, tetapi juga membawa pengaruh yang lebih luas bagi komunitas global. Agustus adalah bulan yang berarti bagi Indonesia, karena pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa ini merayakan proklamasi kemerdekaannya. Di tahun 2024, bulan ini juga menjadi istimewa bagi Komunitas Tunarungu dan pengurusnya, serta komunitas internasional, seiring dengan adanya pengakuan ini. Dari tanggal 29 hingga 30 Agustus 2024, Sidang ke-50 Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang berlangsung di Yaoundé, Republik Kamerun, menghasilkan resolusi penting yang mengakui praktik terbaik yang dilaksanakan oleh Indonesia dalam mempromosikan dan mengembangkan bahasa isyarat untuk pengajaran Al-Qur'an. Resolusi tersebut tercantum dalam Sektor Sains dan Teknologi, Pendidikan Tinggi, serta Kesehatan, dengan nomor 7/50-S&T yang secara eksplisit mengakui upaya Indonesia dalam hal ini. Dokumen yang disetujui menyatakan, "Kami menyambut baik kerja sama antara Universitas Teknologi Islam dan Pemerintah Indonesia yang menyelenggarakan seminar virtual pada tanggal 22 Maret 2024 tentang Bahasa Isyarat Al-Qur'an, sebagai langkah untuk memajukan pengajaran bahasa isyarat." Selain itu, anggota OKI didorong untuk lebih mengembangkan bahasa isyarat dalam rangka pendidikan inklusif yang dapat diakses oleh semua kalangan. Pengakuan melalui resolusi tersebut merupakan langkah penting dalam memberikan perhatian lebih kepada komunitas tunarungu. Ini bukan hanya sekadar norma, tetapi merupakan komitmen yang kuat dari seluruh negara anggota OKI dan lembaga-lembaganya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih adil bagi semua lapisan masyarakat. Meski demikian, tantangan masih ada di hadapan kita. Pengakuan internasional ini adalah langkah awal yang penting bagi Indonesia untuk terus meningkatkan perhatian terhadap komunitas ini. Masih banyak yang perlu dilakukan untuk memperbaiki keadaan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat tunarungu. Kerja sama internasional sangat diperlukan dalam pengembangan teknologi yang dapat mendukung partisipasi penuh mereka dalam masyarakat. Walaupun Indonesia telah berupaya keras memberikan perhatian kepada komunitas ini, perkembangan positif mulai tampak berkat beberapa praktik baik yang muncul baik dari pemerintah maupun individu yang tinggal di dalam maupun luar negeri. Misalnya, tindakan proaktif yang diambil oleh Perwakilan RI di Libya pada tahun 2020, yang menginisiasi program pemberdayaan diaspora melalui pelajar Indonesia, juga telah memberikan kontribusi dalam mempromosikan bahasa isyarat. Salah satu inovasi penting yang muncul adalah produk digital *“Electronic Masdar,”* yang dikerjakan bersama tokoh-tokoh dari asosiasi tunarungu nasional, Majelis Taklim Tuli Indonesia (MTTI). Produk ini juga dipromosikan dalam Konferensi Bahasa Arab Internasional di Libya secara virtual. Lebih jauh lagi, MTTI menjadi mitra Kementerian Agama RI dalam menerbitkan Al-Qur'an dalam Bahasa Indonesia yang pertama, yang dilengkapi dengan penjelasan menggunakan bahasa isyarat khusus untuk tunarungu pada tahun 2023. Buku ini kini menjadi sumber informasi penting bagi mahasiswa dari negara anggota OKI yang belajar di Universitas Islam Teknologi, salah satu lembaga di bawah naungan OKI. Kebijakan dan pengembangan teknologi untuk membantu masyarakat tunarungu di Indonesia menunjukkan kemajuan, meskipun masih menghadapi berbagai tantangan. Beberapa tantangan tersebut termasuk keterbatasan data, kurangnya koordinasi antar lembaga, dan situasi sosial yang masih menghadapi hambatan dalam memberikan akses yang layak bagi penyandang disabilitas. Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat, dibutuhkan kolaborasi yang lebih luas. Media, baik elektronik maupun cetak, dapat berperan penting dalam menyebarluaskan informasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang isu ini. Melalui berbagai upaya tersebut, penting untuk merangkul semua pemangku kepentingan baik di dalam negeri maupun di forum internasional. Partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat akan memperkuat langkah-langkah inovatif yang diambil. Akhirnya, pengakuan internasional ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan bagi komunitas tunarungu di Indonesia, tetapi juga memberikan dampak positif di tingkat global. Semoga langkah-langkah yang diambil terus berlanjut dan membawa perubahan yang berarti bagi mereka yang membutuhkan. Wallahu 'alam bi showab. ANTARA