JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Integritas telah menjadi salah satu elemen krusial dalam proses pembangunan *personal branding* di era digital saat ini. Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Humas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Yuyuk Andriati Iskak. Menurut Yuyuk, citra diri yang kuat bukan hanya didasarkan pada kemampuan atau keterampilan, melainkan juga nilai dan etika yang dipegang teguh. Hal itu menjadi fokus utama dalam diskusi acara yang diadakan KPK bertajuk *INSIGHT ImaginAction* di Malang, Jawa Timur. Di dalam acara tersebut, Yuyuk menyoroti bahwa *attitude* merupakan bagian tidak terpisahkan dari integritas. Ia menegaskan bahwa *personal branding* yang kuat harus berlandaskan pada nilai-nilai positif yang dapat kita tonjolkan dalam kehidupan sehari-hari. Acara *INSIGHT ImaginAction* ini merupakan salah satu kegiatan KPK dalam rangka menyambut peringatan Hari Antikorupsi Sedunia. Melalui kegiatan ini, KPK berupaya untuk menanamkan nilai-nilai integritas di kalangan generasi muda. Yuyuk juga menekankan pentingnya peran aktif generasi milenial dan generasi Z dalam upaya membangun bangsa yang bebas dari praktik korupsi. Dalam diskusi tersebut, penampilan musisi Barsena Bestandhi dan konten kreator Roofi Anggara menambah warna. Mereka membahas tentang pentingnya menciptakan *personal branding* yang autentik di dunia digital, dengan tetap mengedepankan integritas serta nilai-nilai kejujuran. Barsena, yang terlibat dalam proyek lagu berjudul *Biasakan yang Benar*, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi para konten kreator saat ini adalah tuntutan komersial yang tinggi. Dia mengingatkan pentingnya menjaga orisinalitas dan tidak terjebak dalam keinginan pasar yang berlebihan. "Saat kita terlalu mengikuti keinginan pasar, kita bisa kehilangan jati diri. Ketika jati diri hilang, kita menjadi *fake*, dan itu menyakitkan," jelas Barsena. Di sisi lain, Roofi Anggara menegaskan bahwa dunia digital menawarkan banyak peluang bagi generasi muda, terutama generasi Z, untuk mengembangkan kariernya melalui platform media sosial dan inovasi kecerdasan buatan (*artificial intelligence*). Namun, dia menekankan bahwa memiliki teknologi yang canggih saja tidak cukup. Mentalitas dan aksi nyata adalah kunci utama untuk mencapai kesuksesan. "Banyak dari kita memiliki rencana besar, tetapi sering kali lupa untuk bertindak. Padahal, tindakan adalah kunci untuk mewujudkan semua rencana tersebut," pungkas Roofi. ANTARA