SEMARANG –
**Borneonews - Magelang**, Sejumlah mahasiswa dari Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengambil bagian dalam Festival Lima Gunung XXIII yang dilaksanakan pada hari Minggu di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Festival yang bertemakan *"Wolak-Waliking Jaman Kelakone"* ini memiliki makna dan kedalaman tersendiri, terutama dalam pengelolaan pertunjukan seni yang unik. Dosen pembimbing mereka, Doktor Paramitha Dyah Fitriasari, menjelaskan bahwa fokus kajian mahasiswa tersebut adalah manajemen penyelenggaraan seni. Festival Lima Gunung dikenal sebagai acara yang berlangsung tanpa dukungan dana dari pemerintah atau sponsor, yang menampilkan semangat kemandirian dan kolaborasi komunitas. Dalam kajian ini, ada 29 mahasiswa yang terlibat, terdiri dari 22 mahasiswa program magister dan tujuh lainnya dari program doktoral. Festival ini diselenggarakan oleh Komunitas Lima Gunung, yang berakar dari kelompok seniman petani yang berada di sekitar kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh, wilayah yang mengelilingi Kabupaten Magelang. Komunitas ini didirikan oleh budayawan Sutanto Mendut, yang berpengalaman lebih dari dua dekade dalam mempromosikan budaya dan seni lokal. Ia menekankan pentingnya mahasiswa memiliki pemahaman mendalam mengenai berbagai model penyelenggaraan pertunjukan seni budaya, termasuk Festival Lima Gunung. Dalam persiapan sebelumnya, mahasiswa mendapatkan materi terkait festival dalam perkuliahan dan mengeksplorasi informasi melalui buku, media massa, serta tayangan di *YouTube*. Mereka kemudian memutuskan untuk hadir secara langsung pada puncak festival. Doktor Paramitha menekankan bahwa kehadiran langsung dalam acara seperti ini memungkinkan mahasiswa untuk memahami secara mendalam manajemen dan pengelolaan festival seni budaya. Mahasiswa juga berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan para seniman yang ambil bagian dalam acara serta berbagai pihak terkait lainnya. Selain itu, mereka melakukan audiensi dengan Sutanto Mendut di "Sanggar Saujana Keron", yang saat ini dipimpin oleh Sujono, yang juga menjabat sebagai Ketua Komunitas Lima Gunung. Puncak Festival Lima Gunung XXIII berlangsung selama periode 25 hingga 29 September 2024, di lokasi yang dikenal sebagai "Panggung Semut Ireng". Menurut catatan panitia, festival ini diikuti oleh sekitar 120 kelompok seniman yang melibatkan sekitar 2.000 personel. Mereka berasal dari berbagai grup di KLG, desa-desa sekitar Keron dan Magelang, serta kota-kota dari seluruh Indonesia dan beberapa negara lain. Beragam pertunjukan yang digelar meliputi tarian, musik, wayang, pertunjukan seni, pameran foto, melukis *on the spot*, pembacaan puisi, teater, pidato kebudayaan, dan kirab budaya. Festival ini menjadi platform penting untuk merayakan keragaman budaya dan memberikan ruang bagi setiap seniman untuk mengekspresikan karya seni mereka dengan cara yang otentik. ANTARA