DENPASAR –
**Borneonews - Denpasar**, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengemukakan bahwa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali memiliki potensi besar sebagai katalisator dalam pengembangan industri semikonduktor di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Airlangga saat mengikuti acara *Knowledge Sharing and Networking Event* dengan tema *Shaping The Future Economy: AI & Semiconductor* yang berlangsung di KEK Kura-Kura Bali, pada hari Minggu. Ia menekankan pentingnya peran kawasan ini dalam menciptakan sebuah ekosistem digital yang inovatif dan berkelanjutan. Airlangga menginginkan agar Tsinghua University tidak hanya membangun *center* penelitian tetapi juga mendirikan kampus di lokasi tersebut. Hal ini diharapkan dapat berfungsi sebagai *kawah candradimuka* bagi para generasi muda Indonesia. Sebelumnya, pada bulan November 2022, kampus United in Diversity (UID) Bali dan Tsinghua Southeast Asia Center telah resmi dibuka di Kura-Kura Bali. Kolaborasi ini bertujuan untuk menciptakan sebuah *learning hub* berskala internasional yang dapat menampung individu-individu yang tertarik untuk belajar, memperluas jaringan, serta mengembangkan kapasitas mereka. Pusat ini juga menjadi wadah untuk menghasilkan solusi inovatif demi berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Airlangga juga menyampaikan harapannya agar inkubator teknologi Kura-Kura Bali mampu memperkuat ekosistem digital di Indonesia, khususnya dalam konteks pengembangan industri semikonduktor. Ia menilai bahwa inisiatif ini merupakan langkah signifikan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, akademisi, dan pelaku industri, untuk memperkuat dan mendalami ekonomi digital. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa semikonduktor merupakan salah satu elemen kunci dalam pengembangan *artificial intelligence* (AI). Menurut Airlangga, pemerintah telah meluncurkan konsep industri 4.0 pada tahun 2018, dan nilai ekonomi digital Indonesia saat ini mencapai sekitar 82 miliar dolar AS. Ia memprediksi bahwa nilai ini akan meningkat hingga 300 miliar dolar AS pada tahun 2030. Peningkatan ini diharapkan dapat terjadi secara signifikan dengan penerapan *Digital Economy Framework Agreement* di negara-negara ASEAN. Di samping itu, Airlangga juga mencatat bahwa Indonesia merupakan ekosistem yang subur bagi lebih dari 2.600 startup, dengan sekitar 15 di antara mereka yang memiliki nilai hampir 10 miliar dolar AS, dan dua perusahaan lainnya memiliki valuasi di atas angka tersebut. Hal ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan startup di kawasan ini. ANTARA