SAMARINDA –
**Borneonews - Kutai Kartanegara**, Festival Erau Adat Kutai 2024 resmi ditutup dengan ritus sakral yang dikenal sebagai Belimbur. Ritus ini melambangkan pengakuan akan keabadian budaya nenek moyang dan menjaga keberlangsungan tradisi yang telah ada di tanah Kutai, Kalimantan Timur. Dalam kesempatan tersebut, Penjabat Sementara Bupati Kutai Kartanegara, Bambang Arwanto, mengungkapkan harapannya agar seluruh rangkaian acara adat dapat berlangsung dengan khidmat dan tertib. Ia berharap prosesi ini dapat memberikan gambaran positif di mata masyarakat Kalimantan Timur dan seluruh Nusantara. Sebelum berlangsungnya Belimbur, telah diadakan prosesi Mengulur Naga, di mana dua replika naga, yakni Naga Laki dan Naga Bini, diarak dari Tenggarong menuju lokasi bersejarah di Kutai Lama. Di muara Sungai Mahakam, tubuh kedua naga tersebut dilarung sebagai bentuk persembahan kepada penguasa alam gaib. Sementara itu, kepala dan ekor naga dibawa kembali ke Tenggarong untuk disemayamkan di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Prosesi Mengulur Naga memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar simbolis; ritual ini berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara dunia nyata dan dunia gaib. Dalam momen ini, Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura melakukan ritual Berumbang dan Rangga Titi di Tenggarong sebagai bagian dari persiapan spiritual menjelang Belimbur. Belimbur sendiri adalah ritual pencucian diri yang dilakukan setelah air suci, yang dikenal sebagai *Air Tuli* dari Kutai Lama, tiba di Tenggarong. Dalam ritual ini, Sultan, anggota keluarga Kesultanan, dan masyarakat melakukan prosesi memercikkan air suci ke tubuh dengan menggunakan Mayang Pinang serta mengarahkan air ke empat penjuru mata angin. Aktivitas ini melambangkan pembersihan diri dari pengaruh jahat dan memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Bambang Arwanto mengajak semua pihak untuk menjaga ketertiban selama berlangsungnya upacara serta menghormati nilai-nilai luhur yang terkandung dalam adat istiadat Kutai. Dalam pelaksanaan ritual sakral ini, diingatkan agar semua peserta senantiasa mematuhi etika dan sopan santun. Tata cara dalam pelaksanaan Belimbur merupakan titah yang diterima dari Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Masyarakat yang merayakan di tanah Kutai diharapkan untuk mengikuti semua aturan demi menjaga suci dan makna dari ritual Belimbur. Pangeran Aji Amijoyo, salah satu anggota Kesultanan Kutai ing Martadipura, menambahkan bahwa prosesi tersebut juga akan melibatkan pengulangan langkah sejarah dengan membawa dua replika naga ke Kutai Lama. Ia menyatakan bahwa festival ini mencerminkan identitas bangsa Indonesia melalui kearifan lokal dan semangat masyarakat dalam melestarikan tradisi mereka. Selain dari segi budaya, Festival Erau turut memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat di Kutai Kartanegara. Festival ini diharapkan dapat menjadi penggerak bagi pariwisata di kawasan Kalimantan Timur, terutama dengan keberadaan Ibu Kota Nusantara yang berdekatan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Pangeran Aji Amijoyo juga menegaskan pentingnya acara Erau sebagai citra eksklusif yang bisa membanggakan masyarakat Kalimantan Timur. Ia menjelaskan tentang empat prinsip dasar yang menjadi fondasi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, yaitu adat, adab, budaya, dan syarat. Jika nilai-nilai ini dapat ditransfer dengan baik kepada generasi muda, maka Kutai Kartanegara dapat menjadi sumber inspirasi yang menerangi tanah Ibu Kota Nusantara. Penutupan Festival Erau Adat Kutai 2024 yang meriah berlangsung kemarin, setelah sejumlah rangkaian yang dimulai sejak 21 September. Tradisi saling siram air di antara peserta memiliki makna spiritual yang mendalam, yang melambangkan penyucian diri dan ungkapan syukur dari masyarakat. Mereka yang hadir pun tampak siap untuk basah kuyup, karena aksi siram-menyiram air tidak hanya terjadi di darat, namun juga dari arah sungai. ANTARA