BANTEN –
**Borneonews - Pandeglang**, Pertanian ubi jalar di Pandeglang telah menjadi pilar yang signifikan dalam mendukung ekonomi petani setempat. Tanaman ini mampu memenuhi permintaan pasar di berbagai wilayah, termasuk Provinsi Banten, serta kota besar seperti Bogor dan Jakarta. Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Nuridawati, mengungkapkan bahwa produksi ubi jalar di daerah tersebut mencapai rata-rata 5.000 ton setiap bulan dari lahan panen seluas 250 hektare. Sebagian besar pertanian ubi jalar ini berkembang di lahan persawahan yang subur. Pusat produksi ubi jalar terletak di beberapa kecamatan, antara lain Menes, Mandalawangi, Jiput, Saketi, dan Cikedal. Petani yang berfokus pada budidaya ubi jalar umumnya telah menikmati hasil yang memuaskan, ditunjang oleh harga yang relatif stabil di tingkat tengkulak, yakni Rp4.000 per kilogram. Nuridawati menjelaskan, jika rata-rata hasil panen ubi jalar mencapai 10 ton per hektare dengan harga jual tersebut, pendapatan yang dihasilkan bisa mencapai Rp40 juta dari setiap hektare lahan. Ubi jalar yang dihasilkan tidak hanya dipasarkan di dalam provinsi, tetapi juga dikirim ke berbagai daerah, termasuk untuk keperluan industri makanan. Berbagai produk olahan, seperti keripik ubi, bolu ubi, onde-onde ubi, dan donat ubi, sangat bergantung pada pasokan ubi jalar dari Pandeglang. Konsumsi ubi jalar juga meningkat sebagai alternatif pengganti nasi, baik karena rasanya yang enak setelah direbus maupun manfaatnya bagi kesehatan, khususnya bagi penderita diabetes melitus. Kualitas ubi jalar dari Pandeglang diakui karena ukurannya yang besar serta rasa yang manis dan pulen, dan memiliki keunggulan dapat bertahan lama tanpa mengalami pembusukan. Nuridawati menambahakan bahwa intensitas pasokan ubi jalar menuju daerah lain menunjukkan hasil yang positif, bahkan mencapai puluhan ton per hari menggunakan kendaraan angkutan tipe *Colt*. Ade Supriyadi, seorang petani berusia 60 tahun dari Desa Cilaban Bulan di Kecamatan Menes, mengungkapkan proses budidaya ubi jalar telah dilakukannya selama 30 tahun. Ia mengaku bahwa usaha tani ini tidak hanya memberikan pendapatan yang baik, tetapi juga menyerap tenaga kerja dengan merekrut empat orang. Dari luas dua hektare lahan, ia mampu menjual sekitar 20 ton ubi jalar per musim, sehingga meraup keuntungan sekitar Rp80 juta. Di sisi lain, Emen, penampung ubi jalar yang juga berusia 60 tahun, mengungkapkan bahwa ia rutin memasok ubi jalar ke pasar di Rangkasbitung, Serang, dan Tangerang setiap dua hari. Dalam setiap pengiriman, ia bisa memasok hingga 10 ton dengan harga jual Rp5.000 per kilogram, menghasilkan omzet sekitar Rp5 juta. Melalui industri ini, bukan hanya pertanian yang berkembang, tetapi juga penguatan perekonomian lokal di Kabupaten Pandeglang. ANTARA