JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Sedikitnya 112 jiwa terkonfirmasi telah meninggal dunia dan 68 orang lainnya masih dinyatakan hilang akibat banjir hebat yang melanda Nepal. Bencana ini merupakan dampak dari hujan terberat yang tercatat dalam 54 tahun terakhir, seperti yang dilansir oleh surat kabar lokal, *The Kathmandu Post*. Hingga malam hari pada Sabtu, 28 September, Kementerian Dalam Negeri Nepal melaporkan bahwa 99 orang telah resmi dinyatakan meninggal dunia, 68 orang hilang, dan sekitar 100 individu mengalami luka-luka. Banjir yang disertai tanah longsor ini telah menyebabkan gangguan signifikan pada infrastruktur transportasi, dengan banyak jalan raya terputus dan akses menjadi sulit di berbagai wilayah. Laporan menunjukkan bahwa ratusan rumah serta jembatan telah hancur atau terseret arus, memaksa banyak keluarga untuk mengungsi dari tempat tinggal mereka. Selain itu, ribuan penumpang juga mengalami kesulitan karena terjebak di berbagai lokasi akibat terhalang oleh bencana tersebut. Dalam upaya menanggulangi situasi ini, pihak berwenang setempat terus mengintensifkan operasi pencarian dan penyelamatan. Lebih dari 20.000 petugas keamanan dikerahkan di seluruh daerah yang terdampak untuk mencari kemungkinan adanya korban lainnya yang belum ditemukan. Pada hari yang sama, Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal melaporkan bahwa Lembah Kathmandu menerima curah hujan sebesar 240 milimeter dalam periode 24 jam. Angka ini menjadi yang tertinggi yang tercatat di ibukota sejak tahun 1970, menandakan betapa ekstremnya kondisi cuaca yang telah melanda negara tersebut. ANTARA