JAKARTA –
**Borneonews - New York**, Dalam konteks krisis yang tengah berlangsung di Suriah, para Menteri Luar Negeri dari Turki, Rusia, dan Iran, yang berfungsi sebagai penjamin dalam inisiatif *Astana*, mengadakan pertemuan di New York pada hari Jumat, 27 September. Pertemuan ini berlangsung di sela-sela sesi ke-79 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam pertemuan tersebut, Hakan Fidan dari Turki, Sergey Lavrov dari Rusia, dan Abbas Araghchi dari Iran, fokus membahas sejumlah isu yang berkaitan dengan kondisi keamanan, politik, dan kemanusiaan di Suriah. Mereka juga menekankan pentingnya penahanan diri untuk mencegah serangan Israel di Lebanon yang dapat memicu peningkatan kekerasan lebih lanjut di Suriah, seperti yang diungkapkan oleh sumber diplomatik dari Turki. Lebih lanjut, pertemuan ini menggarisbawahi urgensi dalam menjaga perdamaian, terutama di wilayah Idlib di barat laut Suriah. Para menteri juga menyuarakan keprihatinan terhadap potensi pemanfaatan situasi oleh kelompok teroris separatis yang berusaha mengambil keuntungan dari keadaan yang tidak stabil saat ini. Hakan Fidan mengulangi komitmen Turki dalam mendukung pendekatan politik yang lebih jelas di Suriah dan menegaskan signifikansi dari Proses *Astana* dalam upaya mencapai perdamaian serta stabilitas di kawasan tersebut. Dia turut menyoroti ancaman yang ditimbulkan oleh terorisme, termasuk peningkatan aktivitas dari kelompok ekstremis seperti Daesh/ISIS di area Suriah. Fidan juga menegaskan bahwa PBB seharusnya berperan sebagai penggerak utama dalam penyelesaian konflik yang berkepanjangan di Suriah. Sejak awal 2011, Suriah terjebak dalam perang saudara yang brutal, dimulai ketika rezim Bashar al-Assad mengambil tindakan keras terhadap protes pro-demokrasi dengan cara yang sangat represif. Dengan dinamika yang terus berubah dalam situasi di Suriah, pertemuan ini menjadi penting dalam upaya mempertahankan potensi jalan menuju penyelesaian yang konstruktif. ANTARA