**Borneonews - West Sumatra**, Sebanyak 25 penambang berhasil dievakuasi dari lokasi tambang emas ilegal yang mengalami longsor di West Sumatra, menurut laporan dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Insiden tragis ini terjadi pada Kamis, dan hingga hari Minggu pukul 08.00 WIB, Basarnas melaporkan bahwa sebelas orang di antara mereka tidak selamat dengan dua belas lainnya berhasil bertahan hidup.
Edy Prakoso, Deputi Operasi dan Pelatihan Basarnas, menyatakan bahwa korban terakhir yang dievakuasi dari lubang tambang di Desa Sungai Abu, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, adalah Sugeng, yang jasadnya berhasil ditemukan bersama dengan Zulmadinir yang selamat dari bencana tersebut. Semua korban yang dievakuasi telah dibawa ke Rumah Sakit Umum M.Natsir untuk mendapatkan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Prakoso menambahkan bahwa kegiatan pencarian dan penyelamatan yang dimulai sejak hari Jumat lalu masih dalam pertimbangan untuk dilanjutkan. Basarnas berencana untuk melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait guna mengoptimalkan upaya ini. Selain itu, mereka juga akan tetap menempatkan personel di pos komando Sungai Abu yang berfungsi untuk menerima laporan mengenai orang-orang yang dilaporkan hilang oleh warga setempat.
Indonesia sendiri telah mengalami sejumlah kecelakaan tambang yang mematikan baik di lokasi yang memiliki izin maupun tidak. Salah satu kejadian tragis yang dikenang terjadi pada pagi hari, 14 Mei 2013, ketika sebuah fasilitas pelatihan bawah tanah di tambang tembaga dan emas PT Freeport Indonesia di Papua mengalami longsor, merenggut nyawa 28 orang.
Tunneling Big Gossan mengalami keruntuhan saat 38 pekerja Freeport tengah mengikuti program pelatihan. Lokasi kejadian berada dekat dengan kantor namun jauh dari aktivitas penambangan yang berlangsung saat itu. Berdasarkan informasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, kecelakaan ini terjadi saat pelatihan rutin keselamatan tambang bawah tanah, menewaskan 28 orang dan melukai 10 lainnya.
Kejadian serupa juga terjadi pada 7 Juli 2024, di mana tambang emas ilegal di Desa Tulabolo Timur, Kecamatan Suwawi Timur, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, juga mengalami longsor besar. Yang mengkhawatirkan, total korban dari bencana tersebut mencapai 325 orang. Dari jumlah tersebut, 27 orang dipastikan meninggal dunia, 283 orang berhasil ditemukan selamat, dan 15 orang masih dinyatakan hilang hingga operasi pencarian dihentikan pada 13 Juli 2024.
ANTARA
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Leli/Osrita Raih Perunggu para Tenis Meja Ganda Putri WD10
Karhutla di Belakang SMKN 3 Kuala Kapuas Merembet ke Bangunan Warga
Tokoh Lintas Agama Ingatkan Pentingnya Huma Betang dan Kerukunan di Kalteng
Kabinda Kalteng Ajak Tokoh Agama Edukasi Masyarakat Bijak Bermedia Sosial
Hari Santri Nasional Momentum Perkuat Komitmen Cetak Generasi Emas
Polda Kalteng Lakukan Penanaman Pohon di Bekas Lokasi Karhutla, Wujudkan Green Policing
Komentar (0)
Memuat komentar…







