BORNEONEWS, Palangka Raya - Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah (Walhi Kalteng) menilai penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selama ini belum maksimal. Penanganan harus komperehensif dan terencana. Pemerintah harus melihat akar permasalahan terjadinya bencana karhutla.

"Harus konperehensif dari pencegahan, penanganan sama penanggulangan. Pencegahan ini harus menarik akar persoalannya apa," kata Direktur Eksekutif Walhi Kalteng, Arie Rompas, di Luwansa Hotel Palangka Raya, Jumat (12/8/2016).

Arie mengatakan, pemerintah sudah memiliki data untuk melihat akar permasalahan bencana karhutla.  Salah satunya peta konsentrasi hotspot beberapa tahun terakhir yang terfokus di beberapa wilayah. Berbekal itu, katanya, sudah bisa dijadikan acuan untuk membuat road map penanganan secara konperenhensif. Namun sayangnya, belum ada langkah serius hingga kini diambil pemerintah.

Salah satu indikator kririknya itu ungkap Arie, dari fokus untuk pemadaman api. Sementara tidak ada langkah pencegahan dengan melibatkan masyarakat.

Badan Meteorologi Geofisika dan Klimatalogi (BMKG) melalui laman resmi merilis, sejumlah daerah di Kalteng sudah memasuki pergantian musim sejak Juni-Juli lalu. Seluruh daerah akan efektif masuk musim kemarau diperkirakan pada bulan Agustus. (RONI SAHALA/N).