JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Kepala Departemen Komite Sentral Partai Pekerja yang berkuasa di Korea Utara, Kim Yo Jong, mengungkapkan bahwa bantuan militer yang diberikan oleh Amerika Serikat kepada Ukraina dapat berpotensi memicu bencana nuklir. Pernyataan ini disampaikan pada 29 September 2024 dan menyoroti keprihatinan serius mengenai situasi geopolitik saat ini. Kim menyatakan, “Baru-baru ini, AS telah mengumumkan bantuan militer tambahan kepada pemerintah Ukraina yang diklaimnya sebagai pemerintah boneka neo-Nazi, dengan total mencapai lebih dari delapan miliar dolar AS. Ini merupakan keputusan yang sangat keliru.” Ia menggarisbawahi bahwa tindakan tersebut bisa memperburuk ketegangan yang ada. Dalam pernyataannya yang dirilis oleh kantor berita resmi Korea Utara, *KCNA*, Kim mengutuk keras upaya AS yang dianggapnya sengaja memperburuk keadaan. Ia menegaskan bahwa dengan memberikan berbagai jenis senjata dalam jumlah mencolok kepada Ukraina, AS berisiko menjadikan seluruh Eropa sebagai target dari potensi bencana yang mengerikan akibat perang nuklir. Lebih lanjut, Kim menyampaikan bahwa AS tidak seharusnya mengabaikan peringatan yang diberikan oleh Rusia mengenai kemungkinan dampak buruk dari penyediaan senjata jarak jauh kepada Ukraina. “Korea Utara percaya bahwa Barat harus mengabaikan tuntutan yang diajukan oleh Volodymyr Zelenskyy, yang terus meminta senjata untuk melancarkan serangan ke wilayah Rusia, guna mencegah terjadinya bencana besar,” tuturnya. Dia juga menunjukkan bahwa masyarakat internasional mulai merasa jenuh dengan permintaan yang terus-menerus diajukan oleh Zelenskyy. “Ia perlu mengundurkan diri demi perdamaian dan stabilitas global,” tambah Kim, menekankan pentingnya tindakan untuk mencapai keharmonisan dunia. Sebelum pernyataan tersebut, Presiden AS Joe Biden telah memberikan instruksi kepada Pentagon untuk mengalokasikan dana sisa dari program bantuan militer untuk Ukraina, yang dijadwalkan akan diselesaikan hingga akhir masa jabatannya. Keputusan itu menunjukkan komitmen AS untuk terus mendukung Ukraina dalam situasi yang semakin kompleks dan menegangkan ini. ANTARA