BANDUNG –
**Borneonews - Bandung**, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat, Noneng Komara Nengsih, mengungkapkan bahwa meskipun ketersediaan komoditas pokok di wilayah tersebut masih dalam keadaan aman, pihaknya tetap harus mewaspadai pergerakan beberapa komoditas, khususnya beras dan cabai. Menurut Noneng, saat ini ada beberapa komoditas yang perlu perhatian khusus, yaitu minyak goreng, beras, dan beberapa jenis cabai. Dia menegaskan pentingnya menjaga agar tidak ada kelangkaan pada komoditas pokok menjelang akhir tahun ini, demi menjaga stabilitas laju inflasi di Jawa Barat. "Secara umum, kami optimis bahwa pangan aman dan tersedia di seluruh pasar. Namun, kami tetap harus waspada terhadap pemicu inflasi yang mungkin muncul. Target inflasi yang kami tetapkan adalah sebesar 2,5 persen," jelasnya. Salah satu komoditas yang menjadi sorotan adalah minyak goreng. Kenaikan harga *Minyakita* telah terjadi, di mana harga eceran tertinggi (HET) berubah dari Rp14.000 per liter menjadi Rp15.700 per liter. Kenaikan harga ini merupakan dampak dari telah ditetapkannya Permendag Nomor 18 Tahun 2024. Kondisi ini menyebabkan tidak hanya terjadinya kelangkaan di beberapa daerah, tetapi juga adanya lonjakan harga yang signifikan sebagai respons terhadap kebijakan baru tersebut. Noneng menyatakan, "Ada dampak yang terasa akibat relaksasi sebelumnya yang kemudian dikuatkan dengan HET. Oleh karena itu, kami perlu terus waspada." Untuk menjaga stabilitas ketersediaan serta harga komoditas pokok, pihak dinas telah menyiapkan beberapa strategi, salah satunya adalah melalui operasi pasar. Noneng menambahkan bahwa operasi pasar akan dilakukan sebanyak dua kali, terutama menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru 2025. "Dalam waktu dekat, kami berencana menggelar operasi pasar di berbagai daerah, mencakup sekitar 20 kabupaten/kota," ujarnya. Mengenai kondisi inflasi baru-baru ini, Noneng mencatat adanya anomali yang berbeda dibandingkan dengan sebelumnya. Dikatakan bahwa kenaikan inflasi kali ini tidak semata-mata disebabkan oleh harga komoditas pokok, tetapi juga dipicu oleh naiknya harga rokok akibat peningkatan tarif cukai. Dia menyampaikan, “Besar andil inflasi terbaru berasal dari rokok dan juga dari tarif pendaftaran masuk ke perguruan tinggi.” ANTARA