SEMARANG –
**Borneonews - Solo**, Badan Pangan Nasional (Bapanas) meluncurkan kampanye untuk menghentikan pemborosan pangan di kota Solo, Jawa Tengah. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tingginya tingkat sampah makanan yang masih menjadi masalah serius di Indonesia. Deputi II Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi Bapanas RI, Nyoto Suwignyo, menyampaikan bahwa kegiatan kampanye ini bertepatan dengan peringatan *International Day of Awareness of Food Loss and Waste* (IDAFLS) 2024 yang berlangsung di Solo. Ia menekankan bahwa kegiatan ini akan diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Nyoto menjelaskan, "Harapannya adalah tercapainya kemajuan yang signifikan. Di tahun pertama, kami mengangkat isu penting mengenai pentingnya membangun kebersamaan di antara mitra-mitra kerja." Dalam hal ini, Bapanas berfungsi sebagai kolaborator utama yang memfasilitasi sinergi antar pihak terkait. Pada tahun-tahun berikutnya, Bapanas bersama dengan mitra kerjanya akan terus menggalang kebersamaan untuk menyukseskan kampanye menghentikan pemborosan pangan. "Hari ini, kami akan menyiapkan peta jalan untuk memastikan bahwa langkah yang diambil tidak keliru. Untuk tahun ketiga, yaitu 2024, kami berharap gerakan menghentikan pemborosan pangan dapat lebih menyentuh masyarakat dan menjadi milik kita bersama," imbuhnya. Nyoto Suwignyo berharap bahwa kegiatan ini dapat berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. "Kami ingin mengembangkan gerakan ini agar menjadi lebih menyeluruh dengan membangun kolaborasi dan meningkatkan kegiatan di seluruh Indonesia, sekaligus mempromosikan Indonesia ke tingkat global," ungkapnya. Dalam upaya tersebut, Bapanas juga menginisiasi metode standar untuk mengatasi *food loss* atau kehilangan pangan di tingkat petani, serta *food waste* atau limbah pangan di tingkat ritel. "Kami akan mengembangkan inisiatif ini untuk berbagai kepentingan. Ini sangat penting karena kami sudah mendapat mandat dalam rencana pembangunan jangka menengah 2025-2029, di mana *food loss* dan *food waste* menjadi bagian dari skenario pemerintah untuk dijadikan program nasional," kata Nyoto. Sebagai bagian dari langkah strategis ke depan, Bapanas menargetkan pengurangan volume sampah makanan dan limbah pangan sebesar 50-75 persen. Selain itu, mereka juga sedang menyiapkan draf rancangan peraturan presiden untuk mengatur tata kelola *food loss* dan *food waste*, dengan harapan dokumen ini bisa menjadi pedoman bagi pemerintah dan masyarakat yang peduli terhadap gerakan ini. "Rancangan ini akan efektif setelah ditandatangani oleh presiden. Saat ini prosesnya sedang berlangsung dan kami berharap dapat memberikan dampak yang signifikan. Dalam proses ini, kami melibatkan berbagai mitra kerja, donatur, asosiasi, akademisi, komunitas, serta pemerintah daerah secara intensif," tambahnya. ANTARA