**Borneonews - Jakarta**, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) DShafa berusaha memberdayakan perempuan di Kecamatan Duren Sawit dengan pendekatan inovatif yang terintegrasi dalam proses bisnisnya. Salah satu penggerak utama dalam usaha ini adalah Haryati, seorang wanita berusia 43 tahun, yang mengelola berbagai kegiatan di rumah produksi.
Di tengah aktivitas yang tampak kalem di akhir pekan, Haryati sedang sibuk mengemas berbagai jenis cemilan. Ia dengan cekatan menata setiap item ke dalam kotak kardus, menambahkan pudding pepaya, dan memastikan kotak terutup rapi dengan selotip plastik. Di sisi lain, Dea, seorang anggota tim, juga mengemas nasi menggunakan daun pisang untuk disertakan dalam paket makanan yang akan diberikan kepada ibu-ibu yang baru melahirkan.
"Pada hari ini, Puskesmas Duren Sawit meminta kami untuk menyiapkan makanan dan *snack box* bagi dua ibu yang baru melahirkan," jelas Haryati saat ditemui di lokasi Edufarm Malakasari. UMKM DShafa tidak hanya berfokus pada produk makanan tetapi juga aktif bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyuplai makanan tambahan demi mencegah stunting di kawasan tersebut.
Setiap hari, para ibu rumah tangga lokal menyiapkan beragam makanan dan kudapan untuk balita, sembari menerima pesanan dari berbagai pihak. Berbeda dengan UMKM lain, DShafa mengedepankan kegiatan dari hulu hingga hilir yang mencakup proses penanaman, pengolahan pascapanen, pemasaran, hingga edukasi pertanian. Usaha ini dimulai saat mereka berpartisipasi dalam lomba Gang Hijau DKI Jakarta pada tahun 2018.
Melalui lomba ini, kami mengajak masyarakat di RW 05 untuk lebih hijau dengan menanam satu tanaman per keluarga. Kami meraih kemenangan dan semangat itu membawa kami untuk memperdayakan lahan kosong di sekitar kita, ungkap Haryati mengenang perjalanan bisnisnya.
Dari hasil kemenangan lomba itu, Haryati menginisiasi pemanfaatan lahan seluas 200 meter yang dulunya merupakan tempat pembuangan sampah di dekat SMAN 44 Jakarta. Bersama anggota Tim Penggerak PKK, ia mulai merapikan area tersebut menjadi lebih produktif. Meskipun awalnya proses penanaman dilakukan dengan cara tradisional, Haryati berusaha belajar bertani melalui platform *YouTube*.
Usaha ini berkembang pesat selama pandemi COVID-19, ketika banyak pria di lingkungan yang kehilangan pekerjaan. Ia kemudian melibatkan mereka dalam pengelolaan lahan. Dari hasil panen hidroponik yang melimpah, DShafa tidak hanya menjual sayuran segar, tetapi juga mengolah produk-produk tersebut menjadi keripik sayur, salad buah, asinan, hingga bir pletok.
Tak lama kemudian, dukungan dari Pemprov DKI Jakarta datang, menyediakan lahan yang kini menjadi lokasi Edufarm Malakasari. Tempat ini telah bertransformasi dari lokasi pembuangan sampah menjadi pusat edukasi, *green house*, dan rumah produksi.
Di lokasi Edufarm ini, kami menampilkan berbagai jenis tanaman. Meskipun tempatnya terbatas, kami bekerja sama dengan petani lain untuk memenuhi permintaan spesifik dari pelanggan, ujarnya.
Di Edufarm, DShafa tidak hanya menjual hasil tani secara langsung. Produk-produk mereka juga dipasarkan secara daring melalui beberapa *marketplace*. Saat ini, pusat pelatihan yang kini dikenal sebagai Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) DShafa, berhasil meraih omset hingga Rp125 juta setiap bulan dari berbagai kegiatan edukasi, penjualan produk pascapanen, penjualan bibit, dan layanan katering.
Pemberdayaan perempuan menjadi fokus utama dalam kegiatan ini. Haryati, yang berasal dari Sragen, memulai semua ini setelah menghadapi berbagai tantangan. Pengalamannya sebagai kader Jumantik dan pengalaman pribadi membantunya menyadari pentingnya pemberdayaan masyarakat.
Proses penyembuhan dari kegagalan berumah tangga saya dapatkan melalui tindakan positif dalam memberdayakan orang lain di sekitar, kenang Haryati.
DShafa tidak hanya mengutamakan keuntungan, tetapi juga komitmen untuk memberdayakan perempuan lainnya. Haryati mengakui pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendorong kemajuan UMKM ini, termasuk Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Cakung yang bekerja sama dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra dan PT United Tractors dalam memberikan dukungan pembinaan.
Di tengah prosesnya yang menantang, Haryati tetap optimis mengharapkan perkembangan lebih lanjut untuk P4S DShafa. Ketua Pembina YDBA, Gita Tifani Boer, juga menekankan pentingnya program pendampingan dan fasilitasi agar UMKM ini dapat terus berlanjut dan berkembang.
Hingga tahun 2024, kami telah memiliki 1.328 UMKM yang terdaftar dalam program pembinaan. DShafa adalah contoh nyata bahwa melalui kolaborasi dan dukungan yang tepat, bukan hanya mempertahankan pertumbuhan tetapi juga memberdayakan perempuan untuk mencapai kesuksesan, tutur Gita.
ANTARA
UMKM D'Shafa, Pemberdayaan Perempuan Melalui Inovasi Bisnis
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Komentar (0)
Memuat komentar…







