BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur menginstruksikan perusahaan besar swasta (PBS) yang berinvestasi di daerah itu untuk menyediakan peralatan pemadam kebakaran yang standar.

“Untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan ini, Bapak bupati sudah menginstruksikan kepada semua perusahaan kelapa sawit untuk menyediakan alat pemadam kebakaran yang sesuai atau standar,” kata Asisten II Setda Kotim Halikinnoor, Minggu (14/8/2016).

Kebakaran hutan dan lahan sangat rentan terjadi terlebih berkaca ditahun sebelumnya. Untuk itu dirinya berharap semua pihak harus melakukan antisipasi termasuk perusahaan.

“Ya kita meminta kepada semua perusahaan agar waspada dan menyiapkan alat pemadam kebakaran khususnya perusahaan perkebunan. Setidaknya jika terjadi kebakaran di wilayah perusahaan bisa segera diantisipasi,” tegasnya.

Halikin, mengatakan, pada tahun ini diprediksi tidak terjadi kemarau panjang yang bisa menimbulkan kebakaran parah seperti pada 2015. Meski demikian, pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan tetap siaga menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) ini.

Namun katanya, dari prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada tahun 2017 bakal terjadi kemarau panjang.

“Meski prediksi tahun ini tidak parah, kami berupaya mendorong perusahaan dan pemerintah desa menyiapkan alat pemadam kebakaran yang memadai dan standar untuk mengantisipasi kebakaran pada tahun 2017 mendatang,” katanya.

Selain itu, dia juga menyatakan bahwa setiap desa disarankan membeli alat pemadam kebakaran untuk mengantisipasi kebakaran lahan dan permukiman yang rawan terjadi di daerah ini.

Antisipasi sejak dini terhadap bencana, khususnya kebakaran lahan, sudah seharusnya dilakukan semua pihak. Mengingat, Kotim termasuk daerah yang cukup rawan bencana, seperti banjir, kebakaran permukiman dan lahan, angin kencang, abrasi, longsor dan lainnya.

Seperti pertengahan 2015 lalu, kabupaten ini termasuk daerah terparah dilanda bencana kebakaran lahan dan kabut asap. Saat itu penerbangan lumpuh, sekolah diliburkan dan banyak masyarakat terserang penyakit. Bahkan pemerintah harus menyiapkan rumah singgah untuk menangani warga korban asap.

“Kita antisipasi sejak dini agar kebakaran lahan dan asap sangat parah seperti itu tidak sampai terjadi lagi. Pencegahan harus kita lakukan dengan serius. Apalagi, BMKG memprediksi, tahun 2017 nanti kemarau sangat panjang yakni tujuh bulan. Kalau ini tidak diantisipasi, dampaknya sangat membahayakan,” katanya.

Dari patauan BMKG Bandara Haji Asan Sampit pada Minggu (14/8) terpantau satu titik panas atau hostpot di Kabupaten Kotawaringin Timur, terletak di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. (RAFIUDIN/m)