BANTEN –
**Borneonews - Serang**, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Provinsi Banten telah mengumumkan bahwa hingga 31 Agustus 2024, total penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai mencapai angka yang signifikan, yakni Rp9,25 triliun. Kepala Kanwil DJBC Banten, Rahmat Subagio, menjelaskan bahwa angka penerimaan tersebut sudah memenuhi sekitar 62,88 persen dari target tahunan yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024, yang sebesar Rp14,71 triliun. Angka ini juga mencerminkan pertumbuhan yang positif sebesar 9,52 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dalam rincian penerimaan tersebut, bea masuk mencatat kontribusi sebesar Rp7,18 triliun, mengalami kenaikan sebesar 6,05 persen (yoy). Peningkatan ini terutama didorong oleh kebutuhan bahan bakar, bahan baku industri, khususnya *raw sugar*, serta dari sektor importasi beras. Sementara itu, penerimaan dari cukai mencapai Rp2,07 triliun, dengan pertumbuhan mencapai 23,73 persen (yoy). Kenaikan ini diantaranya dipicu oleh peningkatan volume produksi minuman yang mengandung etil alkohol, yang termasuk dalam golongan A, B, dan C. Hal ini juga berkaitan dengan kenaikan tarif Cukai atas Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) yang rata-rata sebesar 20 persen. Namun, di sisi lain, penerimaan dari bea keluar mengalami penurunan yang signifikan, mencapai Rp2,88 miliar, berkurang sebesar 49,46 persen (yoy). Penurunan ini disebabkan oleh fluktuasi harga yang terjadi pada komoditas kelapa sawit dan produk olahannya. Selain itu, Rahmat juga memberikan informasi mengenai kinerja neraca perdagangan Provinsi Banten hingga bulan Agustus 2024. Nilai ekspor pada bulan tersebut tercatat mencapai 1,05 miliar dolar AS, mengalami peningkatan sebesar 12 persen. Namun, untuk sektor impor, nilainya mencapai 3,37 miliar dolar AS, yang menunjukkan penurunan sebesar 8 persen. Akibat dari kondisi ini, neraca perdagangan Provinsi Banten mengalami defisit sebesar 2,32 miliar dolar AS pada bulan Agustus 2024. Meskipun demikian, angka ini lebih kecil dibandingkan defisit pada bulan yang sama di tahun sebelumnya, yang mencapai 2,17 miliar dolar AS. Penurunan dalam neraca perdagangan neto untuk bulan tersebut disebabkan oleh berkurangnya volume ekspor komoditas seperti daging, ikan, barang cetakan, barang semi-manufaktur dari plastik, serta mesin. Di sisi lain, penurunan juga terjadi pada sektor impor untuk komoditas logam dan hidrokarbon beserta turunannya. ANTARA