JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Deteksi dini terhadap penyakit demensia, yang merupakan kondisi kognitif yang mempengaruhi fungsi otak, sangat penting dilakukan. Hal ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup individu yang mengalaminya tetapi juga berpengaruh signifikan pada keluarga mereka. Dokter spesialis saraf dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, dr. Asnelia Devicaesaria, Sp.N Subsp. NGD(K), menjelaskan bahwa deteksi dini demensia, khususnya *Alzheimer*, tidak hanya memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang kondisi pasien, tetapi juga membuka peluang untuk memberikan perawatan yang lebih efektif. Melalui diagnosis yang akurat, dokter dapat mengevaluasi apakah gejala yang ada dapat diperbaiki serta merumuskan rencana pengobatan yang sesuai. Pada kasus demensia *Alzheimer* yang saat ini belum dapat disembuhkan, melakukan deteksi dini sangat berperan dalam memperlambat laju perkembangan penyakit. Penyakit ini biasanya semakin memburuk seiring bertambahnya usia pasien. Selain itu, aspek yang tak kalah penting dari proses deteksi dini adalah memberikan edukasi kepada keluarga pasien. Dr. Asnelia menekankan bahwa dukungan dari keluarga sangat berarti, karena pengobatan medis saja tidak cukup. Keluarga diharapkan dapat memberikan dukungan emosional dan praktis yang diperlukan oleh orang dengan demensia. Pasien yang terdiagnosis demensia secara dini dapat menerima bantuan untuk mempertahankan kemandirian mereka serta menghadapi berbagai masalah sosial yang mungkin muncul akibat perubahan perilaku yang dialami. Demensia umumnya disebabkan oleh perubahan pada struktur otak, yang dapat memicu perilaku yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain faktor genetik, kondisi ini juga dapat disebabkan oleh gangguan kesehatan seperti diabetes dan hipertensi yang tidak terkelola dengan baik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol yang berlebihan, serta cedera pada kepala. Demensia sering ditemui pada individu berusia 65 tahun ke atas. Namun, kurangnya aktivitas fisik setelah tidak produktif bekerja dan jarangnya berinteraksi sosial juga dapat berkontribusi terhadap perkembangan penyakit ini. Untuk mencegah demensia, dr. Asnelia menyarankan kepada para lansia untuk terlibat dalam kegiatan terencana, baik harian maupun mingguan. Kegiatan yang terjadwal dapat membantu lansia mempertahankan pemahaman tentang lingkungan sekitar, termasuk tempat dan waktu. Disarankan pula bagi lansia untuk melakukan aktivitas yang mereka nikmati, seperti mengikuti kegiatan keagamaan, berolahraga, membaca, serta berinteraksi dengan keluarga dan teman, baik secara langsung maupun melalui komunikasi digital seperti telepon atau video. Keterlibatan sosial ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental dan fisik mereka. ANTARA