SURABAYA –
**Borneonews - Surabaya**, Calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan bahwa jumlah petani milenial di provinsi tersebut merupakan yang tertinggi di Indonesia berdasarkan hasil *Sensus Pertanian 2023* yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut Khofifah, petani milenial di Jawa Timur tercatat sebanyak 971.102 orang, yang berkontribusi sebesar 15,71 persen dari total keseluruhan petani di seluruh Indonesia yang mencapai 6.183.009 jiwa. Angka ini menunjukkan dominasi Jawa Timur dibandingkan dengan provinsi lain seperti Jawa Tengah dengan 625.807 petani, Jawa Barat 543.044 petani, dan beberapa provinsi lain seperti Sumatera Utara, Sumatera Selatan, hingga Aceh dengan angka yang lebih rendah. Khofifah menekankan bahwa semangat petani milenial di Jawa Timur untuk berinovasi di sektor pertanian sangat tinggi. Para petani milenial ini menjadi indikator penting dalam proses regenerasi di bidang pertanian. Selain itu, hal ini mencerminkan semakin baiknya penggunaan teknologi digital, yang diharapkan akan mengarah pada pengembangan pertanian yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan. Hasil sensus yang dilakukan menunjukkan bahwa petani milenial yang berada pada rentang usia 19 hingga 39 tahun di Jawa Timur mencapai 15,71 persen dari total petani di Indonesia, yang berarti ada 971.102 orang dalam kategori ini. Dalam kunjungannya pada hari Minggu, Khofifah melihat langsung proses panen bunga sedap malam yang dilakukan oleh seorang petani milenial bernama Slamet serta putrinya, Karen, di Desa Pekoren, Kabupaten Pasuruan. Dalam kesempatan tersebut, mereka melakukan panen bersama yang memperlihatkan betapa harum dan diminatinya bunga sedap malam di kalangan masyarakat. Bunga dengan nama ilmiah *Polianthes tuberosa* ini memang banyak dicari karena aroma harum yang dihasilkannya. Tidak hanya populer untuk dekorasi acara seperti pernikahan, bunga ini juga digunakan dalam aromaterapi dan sebagai bahan baku dalam produk kosmetik. Saat berinteraksi dengan para petani, Khofifah menekankan potensi besar pasar untuk bunga sedap malam yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Ia menjelaskan bahwa untuk mengembangkan usaha tersebut, ada dua pendekatan yang bisa diambil: ekstensifikasi, yaitu dengan membuka lahan baru, atau intensifikasi dengan meningkatkan produksi pada lahan yang sudah ada. Khofifah menyoroti langkah ekstensifikasi yang dilakukan Slamet dengan membuka lahan baru untuk bunga sedap malam seluas satu hektare. Permintaan terhadap bunga tersebut terus meningkat, bahkan jangkauan pasarnya kini sampai ke Pulau Dewata, Bali. Dalam pembicaraan mengenai intensifikasi, Khofifah menyatakan bahwa diperlukan pemupukan dan pengairan yang baik. Namun, para petani mengalami kendala dalam hal pemupukan, di mana jenis pupuk yang digunakan adalah non-subsidi, sementara skala usaha mereka masih tergolong kecil. Berdasarkan informasi dari pemilik lahan, biaya produksi bunga sadap malam mencapai 50 persen untuk perolehan pupuk non-subsidi. Oleh karena itu, Khofifah menekankan pentingnya untuk membahas hal ini di tingkat kabupaten sehingga kebutuhan pupuk dapat dicantumkan dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK). Ia menyarankan perlunya pembahasan terkait kategorisasi antara usaha berskala kecil menengah yang dapat memperoleh pupuk subsidi dan yang tidak. Jika para petani mendapatkan alokasi pupuk subsidi, maka peluang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka akan semakin besar. Menurut pemilik lahan, keuntungan bersih dari satu hektare tanaman sedap malam bisa mencapai Rp7 juta per bulan. Namun, dengan dukungan pupuk subsidi, keuntungan tersebut bisa meningkat menjadi sekitar Rp10 juta per bulan, yang artinya bisa menjadi tambahan yang signifikan bagi pendapatan petani bunga sedap malam. ANTARA