**Borneonews - Mataram**, Pemerintah Kota Mataram yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat telah menetapkan status siaga darurat kekeringan. Keputusan ini diambil setelah dilakukan pendataan dan evaluasi terhadap berbagai lokasi yang berpotensi mengalami penurunan debit air dalam beberapa pekan terakhir.
"Pemberlakuan status siaga darurat ini efektif mulai 30 September hingga 31 Desember 2024," ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Irwan Rahadi, pada hari Senin lalu.
Penetapan status ini merupakan hasil dari rapat koordinasi yang diadakan oleh BPBD bersama beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Diantara OPD yang hadir adalah Dinas Sosial, Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, serta camat dan lurah setempat. Selain itu, pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (*BMKG*) turut berpartisipasi dengan memberikan penjelasan tentang siklus musim yang sedang berlangsung. Diketahui bahwa puncak hujan diperkirakan akan terjadi di Kota Mataram pada bulan November 2024.
Irwan menambahkan, memang seharusnya Kota Mataram bersikap siaga dalam dua aspek, yakni siaga untuk menghadapi kekeringan dan juga siaga untuk dampak hidrometeorologi. Menurutnya, status darurat ini telah ditetapkan setelah tim BPBD melakukan pemantauan secara langsung. Mereka menemukan bahwa sumber-sumber air di berbagai lokasi mulai menurun.
Keadaan ini juga disertai oleh laporan mengenai satu hektare lahan pertanian yang terancam gagal panen. Wilayah-wilayah seperti Karang Baru dan Rembiga menghadapi kesulitan dalam mendapatkan air, bahkan terpaksa berkoordinasi dengan daerah lain, yaitu Lombok Barat.
"Dari satu hektare lahan pertanian tersebut, tanaman padi dalam kondisi berbunga," tambahnya.
Irwan juga mencatat keluhan dari pengusaha tahu tempe di kawasan Abian Tubuh yang mengalami kekurangan air bersih, terutama dari perusahaan daerah air minum (PDAM). Para pengusaha ini sangat bergantung pada ketersediaan *water supply* yang memadai untuk kelangsungan produksi mereka.
"Debit air bersih dari PDAM mengalami penurunan yang signifikan akibat kemarau yang berkepanjangan," imbuhnya.
Tak hanya itu, laporan lainnya datang dari permukiman warga yang mengungkapkan bahwa mereka menerima bantuan pasokan air melalui injeksi dari PT Air Minum Giri Menang. Irwan menekankan pentingnya koordinasi dengan perusahaan air terkait untuk mengatasi kebutuhan air bersih, mengingat salah satu penyebab utama masalah ini adalah berkurangnya debit air.
Dengan adanya situasi genting tersebut, status siaga darurat kekeringan ini pun ditetapkan. Pemerintah Kota Mataram kini menyiapkan langkah-langkah darurat, seperti menyuplai air ke kawasan yang paling terdampak, serta merancang pendekatan penanganan yang lebih komprehensif untuk menangani masalah kekeringan ini.
Irwan menegaskan bahwa penetapan status siaga darurat kekeringan tidak dilakukan sembarangan. Hal ini berdasarkan banyaknya keluhan yang diterima dari masyarakat yang merasakan langsung dampak kekurangan air.
"Status ini tidak harus menunggu dampak yang lebih besar, tetapi jika sudah ada bukti yang nyata di lapangan dan pengaduan masyarakat terkait penurunan debit air, maka penetapan status siaga darurat adalah langkah yang perlu diambil," pungkasnya.
ANTARA
Kota Mataram Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan Hingga 2024
Bagikan:

MATARAM –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Razia Narkoba, 32 Sopir Angkutan Batubara di Barito Timur Jalani Tes Urine
Komentar (0)
Memuat komentar…







