SEMARANG –
**Borneonews - Solo,** Fasilitas transportasi yang ditujukan untuk atlet yang akan berpartisipasi dalam Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII 2024 telah mulai tiba di Solo, Jawa Tengah. Kedatangan fasilitas ini merupakan bagian dari persiapan yang dilakukan untuk mendukung kelancaran acara tersebut. Kepala Divisi Pengawasan dan Pengendalian Kantor Terminal Tipe A Tirtonadi, Sunardi, mengungkapkan bahwa seluruh armada transportasi yang akan digunakan untuk pelayanan disabilitas dalam acara Peparnas diharuskan memenuhi standar keselamatan. "Setiap unit transportasi harus lolos *ramp check*. Trans Jakarta juga turut berkontribusi dalam kegiatan Peparnas ini dengan menyediakan alat transportasi yang memenuhi syarat untuk penyandang disabilitas," ujarnya. Di lain pihak, Kepala Departemen Operasional Trans Jakarta, Muhammad Hartono, menyatakan bahwa Trans Jakarta sebelumnya telah dipercaya dalam mendukung pergelaran ASEAN Games dan ASEAN Para Games pada tahun-tahun sebelumnya. "Kami memiliki armada bus dengan desain *low entry* yang ramah bagi penyandang disabilitas. Untuk Peparnas kali ini, kami akan mengerahkan sepuluh unit bus *low entry* dan 34 tim," tambahnya. Wakil Sekjen National Paralympic Committee Indonesia (NPCI), Rima Ferdianto, mengungkapkan bahwa persiapan untuk Peparnas telah mencapai tahap final, mencakup lokasi pertandingan serta penyediaan akomodasi, transportasi, dan konsumsi yang memadai. "Kami melakukan pemantauan langsung untuk memastikan kesiapan dari tiga bidang utama ini. Besok, atlet dan ofisial dari 35 provinsi akan mulai datang ke Solo," tandasnya. Selain mengatur tiga bidang utama, NPCI juga melaksanakan pelatihan spesifik untuk relawan yang bertugas di sektor transportasi. "Terdapat 130 orang relawan yang disiapkan untuk bidang transportasi, dan kami akan menambah 30 relawan lagi karena permintaan yang tinggi," jelas Rima. Dia juga menegaskan pentingnya relawan dalam memberikan pelayanan yang optimal bagi penyandang disabilitas. "Mereka yang memiliki hambatan fisik, intelektual, visual, maupun pendengaran memiliki keunikan masing-masing. Oleh karena itu, relawan perlu terlatih untuk memberikan perlakuan yang sesuai," pungkasnya. ANTARA