JAKARTA –
**Borneonews - London**, Sekitar 100.000 individu, baik warga negara Suriah maupun Lebanon, telah melarikan diri ke Suriah akibat serangan udara yang dilancarkan oleh Israel yang tidak kunjung reda. Informasi ini disampaikan oleh Filippo Grandi, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, pada hari Senin. Grandi menyatakan, “Jumlah orang yang telah melintasi perbatasan ke Suriah dari Lebanon untuk menghindari serangan udara Israel kini telah mencapai 100.000 orang. Aliran pengungsi ini masih terus berlangsung.” Dalam pernyataannya di platform *X*, ia juga menambahkan bahwa UNHCR, atau Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah hadir di empat titik perlintasan perbatasan, bekerja sama dengan otoritas lokal dan Palang Merah Suriah untuk memberikan dukungan kepada para pendatang baru. Sejak tanggal 23 September, Israel telah melaksanakan serangkaian serangan udara besar-besaran yang ditujukan kepada apa yang disebutnya sebagai target-target Hizbullah di seluruh wilayah Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan-serangan tersebut telah menyebabkan lebih dari 900 korban jiwa dan lebih dari 2.700 luka-luka. Di antara korban yang jatuh akibat serangan tersebut, ada beberapa komandan penting Hizbullah, termasuk Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah, yang dilaporkan tewas dalam serangan udara di Beirut pada tanggal 27 September. Konflik antara Hizbullah dan Israel telah meningkat seiring berjalannya perang antara Israel dan Gaza. Sejak terjadinya serangan lintas batas oleh kelompok Palestina Hamas pada tanggal 7 Oktober tahun lalu, hampir 41.600 orang, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, telah kehilangan nyawa. Komunitas internasional semakin khawatir bahwa serangan Israel terhadap Lebanon berpotensi memperburuk keadaan dan menyeret konflik di Gaza menjadi lebih luas, mungkin menjadi sebuah perang regional. ANTARA