BORNEONEWS, Kuala Pembuang - Kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) menghendaki pemerintah propinsi dan kabupaten bersiaga penuh untuk mempersiapkan upaya antisipasi dan penanggulangan terbakarnya hutan dan lahan, terutama pada areal kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Menurut Anang Muhrani dari LSM Betang Membangun, mengingat pengalaman terjadinya karhutla 2015, tidak kurang dari 2.000 hektar lebih, kawasan konservasi yang sekaligus merupakan rumah tempat tinggal para habitat orangutan terbesar dunia terbakar.
“Kejadian karhutla yang sampai merambah ke kawasan TNTP itu, tahun ini jangan sampai kembali kembali. Pemerintah harus bisa menetapkan upaya penanggulangan serius secara khusus guna menjamin keamanan kawasan yang dilindungi tidak tersentuh oleh kebakaran ataupun titik api didalamnya,” pinta Anang Muhrani di Kuala Pembuang, Minggu (14/8/2016).
Sebagai cagar biosfernya dunia, lanjut dia, dibutuhkan upaya penyelamatan secara bersama pihak terkait, agar habitat orang utan didalamnya tidak sampai terusik. Diantara peningkatan pelatihan termasuk penambahan personil di tingkat lapangan, serta dari segi peralatan yang mungkin dibutuhkan dalam upaya penanggulangan. Begitu juga dengan persiapan penyediaan sumber air dilokasi kawasan.
“Ini sudah musim kemarau, sangat rentan sekali. Kapan saja kebakaran bisa terjadi,” katanya.
Senada, Ketua LSM Simpati Anak Bangsa (SAB) Kabupaten Seruyan Gajali Rahman menilai jika kawasan TNTP dinilai sangat rawan terhadap ancaman terjadinya kebakaran. Mengingat struktur lahan dilokasi kawasan tersebut, sebagian besar dari luasan yang dimiliki berupa areal gambut.
“Contoh kecil saja, seperti yang pernah terjadi di tahun 2013 silam. Sekitar 20 hektar kawasan TNTP yang masuk wilayah Seruyan pernah terbakar. Itu berdasarkan data pernah disampaikan oleh pihak kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) II Kuala Pembuang,” kata Gajali. (PARNEN/m)








