JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Peneliti dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) yang bernaung di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mikka Wildha Nurrochsyam, mengungkapkan pandangannya terkait moralitas tokoh-tokoh dalam cerita pewayangan. Menurutnya, tidak ada pembagian tegas antara baik dan buruk dalam karakter-karakter yang ada dalam kisah tersebut. Dalam sebuah diskusi daring, Mikka memberikan contoh dari kisah Kresna Duta, yang menunjukkan bahwa setiap tokoh memiliki dimensi moral yang kompleks. Dia menyatakan bahwa tidak ada satu pun tokoh yang bisa dikategorikan hanya sebagai baik atau buruk. Karakter-karakter protagonis dalam cerita tersebut juga mengandung sifat-sifat yang dapat dianggap buruk, begitu pula sebaliknya. Lebih lanjut, Mikka menjelaskan bahwa dalam *lakon* Kresna Duta, tokoh Kresna berperan sebagai Duta Pandawa, yang berusaha mengklaim kembali hak-hak Pandawa atas kerajaan Astina dan Indraprasta yang saat itu dikuasai oleh Duryudana secara tidak sah. Mikka mencatat bahwa meskipun Kresna digambarkan sebagai sosok yang baik hati, dia juga memiliki sifat-sifat yang kurang menguntungkan, seperti keengganannya terhadap perdamaian. Di satu sisi, Kresna siap menjalankan tugasnya sebagai Duta Pandawa dengan semangat untuk memperjuangkan pengembalian kerajaan yang sah. Namun, di sisi lain, Kresna tidak menginginkan perdamaian antara Pandawa dan Kurawa, karena sebagai titisan Dewa Wisnu, dia memiliki misi untuk menjaga keadilan dan menghapus kejahatan di dunia ini. Mikka menjelaskan bahwa jika terdapat kedamaian antara Pandawa dan Kurawa, maka kejahatan yang ada dalam diri Kurawa tidak akan dapat dienyahkan. "Seandainya Pandawa dan Kurawa hidup rukun, artinya tidak ada perang, maka kejahatan tidak akan bisa dihapus dari muka bumi," jelasnya. Sementara itu, di pihak Kurawa yang biasanya dianggap sebagai antagonis, terdapat tokoh-tokoh seperti Salya, Durna, dan Bisma yang melihat bahwa Pandawa memiliki hak yang lebih sah atas kerajaan dibandingkan Duryudana. Mikka menekankan bahwa meskipun Kurawa menggambarkan diri mereka sebagai jahat, tokoh-tokoh tersebut menginginkan agar hak Pandawa yang diklaim oleh Duryudana dikembalikan kepada yang berhak. Menurut Mikka, moralitas tokoh-tokoh dalam kisah Kresna Duta tidak dapat dipandang sepenuhnya baik atau buruk. Sebuah karakter disebut baik jika mereka cenderung berbuat kebaikan, dan sebaliknya, tokoh dianggap jahat apabila menunjukkan kecenderungan untuk berbuat buruk. "Karakter baik bukan berarti tanpa dosa, melainkan mereka menunjukkan kecenderungan ke arah yang baik. Demikian pula dengan karakter jahat, mereka akan dianggap jahat kalau memiliki pola tindakan yang berlawanan," ungkapnya. ANTARA