BANTEN –
**Borneonews - Rangkasbitung**, Pemerintah Kabupaten Lebak mendorong para petani di wilayah ini untuk meningkatkan produksi singkong atau *ubi kayu*. Hal ini disampaikan karena harga di pasaran saat ini menunjukkan tren yang cukup baik, berkisar antara Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, mengungkapkan bahwa harga ubi kayu mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dengan harga sebelumnya yang hanya sebesar Rp2.000 per kilogram. Dalam rangka memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat, pemerintah daerah mendorong para petani untuk memperluas area penanaman singkong. Dapat dimanfaatkan juga area lahan tidur yang tidak produktif untuk ditanami ubi kayu. Hal ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap ketersediaan pangan serta membantu peningkatan ekonomi masyarakat. Berdasarkan data yang ada, produksi ubi kayu di Kabupaten Lebak dari Januari hingga 25 September 2024 mencapai 26.420 ton, yang berasal dari area panen seluas 2.000 hektare. Jika dihitung dengan rata-rata harga Rp5.000 per kilogram, perputaran uang dari produksi tersebut dipastikan mencapai miliaran rupiah. Para petani juga mengembangkan tanaman ubi kayu di lahan darat serta menerapkan sistem tumpang sari dengan tanaman jagung dan padi huma. Ubi kayu memiliki berbagai manfaat, seperti dalam pembuatan makanan camilan yang beragam, termasuk makanan *getuk*, keripik, kerupuk opak, *combro*, *misro*, berbagai jenis kue, serta olahan gorengan lainnya. Selain itu, ubi kayu juga bisa digunakan sebagai bahan baku untuk tepung tapioka, yang selama ini dipasok ke Lampung, mengingat kandungan karbohidratnya yang sebanding dengan beras. Deni menekankan pentingnya bagi petani untuk meningkatkan pengembangan tanaman ubi kayu demi memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan ekonomi keluarga. Dia mencatat bahwa potensi pengembangan ubi kayu di kawasan ini sangat besar, mengingat Lebak merupakan daerah agraris. Menariknya, tanaman ini juga tidak memerlukan banyak perawatan, sehingga dapat tumbuh subur tanpa tergantung pada penggunaan pupuk. Di seluruh area 28 kecamatan, hampir semua petani terlibat dalam budidaya ubi kayu, meskipun luas area tanam masih tergolong kecil. Selama ini, petani di Lebak dapat memasok hasil panen ubi kayu ke Pasar Rangkasbitung, serta daerah Tangerang dan Jakarta. Melihat potensi ini, Deni berharap Kabupaten Lebak bisa memiliki pabrik untuk pengolahan tapioka, sehingga dapat menampung seluruh produksi singkong dari para petani lokal. Salah satu petani, Junaedi (55) dari Kecamatan Maja, mengakui bahwa dia mengembangkan singkong seluas 2 hektare yang merupakan bagian dari milik perusahaan swasta, dengan hasil mencapai sekitar 30 ton per hektare. Setelah melalui proses panen yang memakan waktu sekitar 11 bulan, singkong tersebut dijual ke penampung dengan harga Rp4.000 per kilogram. Dengan demikian, dia dapat meraih pendapatan ekonomi sebesar Rp120 juta dari hasil produksi singkong sebanyak 30 ton pada harga tersebut. ANTARA