BANJARMASIN –
**Borneonews - Banjarmasin**, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Selatan mengungkapkan bahwa kinerja sektor jasa keuangan di provinsi ini tetap terjaga dengan stabil. OJK menyatakan komitmennya untuk mendorong peningkatan inklusi keuangan di daerah tersebut. Kepala OJK Kalsel, Agus Maiyo, menyampaikan bahwa perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan II 2024 mengalami pertumbuhan sebesar 4,81 persen year-on-year (yoy), meskipun angka ini sedikit di bawah pertumbuhan nasional yang mencapai 5,05 persen. Pertumbuhan ekonomi ini didorong terutama oleh sektor perdagangan dan reparasi yang tumbuh sebesar 4,66 persen, diikuti oleh sektor transportasi dengan 4,54 persen, serta pertanian yang mencatat pertumbuhan 4,45 persen. Agus Maiyo juga menambahkan bahwa pertumbuhan 4,81 persen ini menyumbang 15,58 persen terhadap total ekonomi regional Pulau Kalimantan. Dalam hal industri perbankan, kinerja intermediasi keuangan di Kalimantan Selatan terus mengalami peningkatan. Pada bulan Juli 2024, total kredit perbankan tercatat mencapai Rp71,81 triliun, menunjukkan pertumbuhan sebesar 23,28 persen yoy. Jika dibandingkan dengan bulan Juni 2024, yang berada pada angka Rp9,74 triliun, pertumbuhan ini meningkat dari sebelumnya yang hanya mencapai 19,09 persen yoy. Penyaluran kredit didominasi oleh jenis kredit konsumtif dengan porsi sebesar 40,40 persen, meskipun mengalami sedikit penurunan dibandingkan bulan Juni yang mencatat 41,49 persen. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan pertumbuhan yang baik dengan pertumbuhan 9,39 persen yoy, meningkat menjadi Rp86,08 triliun. Kontribusi terbesar atas pertumbuhan ini berasal dari tabungan, yang berkontribusi sebesar 49,14 persen. Agus menjelaskan lebih lanjut bahwa pertumbuhan total aset juga positif dengan kenaikan sebesar 10,80 persen, sehingga total aset perbankan di Kalsel mencapai Rp95,19 triliun. Dari segi jenis penggunaan, kredit investasi mengalami pertumbuhan tertinggi pada angka 39,17 persen, disusul oleh kredit modal kerja yang tumbuh 27,63 persen, dan kredit konsumsi yang tumbuh sebesar 12,07 persen. Di bidang intermediasi perbankan, rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan-to-Deposit Ratio/LDR) berada di angka 83,33 persen, sementara profil risiko perbankan tetap terjaga dengan tingkat Non-Performing Loan (NPL) Nett sebesar 1,00 persen, sedikit meningkat dibandingkan 0,98 persen pada bulan Juni 2024. Selain itu, kinerja perbankan syariah juga menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Aset, DPK, dan pembiayaan di Kalimantan Selatan masing-masing tumbuh 13,45 persen, 13,02 persen, dan 19,70 persen. Rasio pembiayaan terhadap simpanan (Financing to Deposit Ratio/FDR) tercatat sebesar 88,43 persen, dengan Non-Performing Finance Nett sebesar 0,75 persen. Terkait dengan pembiayaan modal ventura, Agus melaporkan bahwa pada bulan Agustus 2024, total pembiayaan mencapai Rp87 miliar, meningkat 10,13 persen yoy. Sementara itu, Non-Performing Financing (NPF) tetap stabil diangka 2,43 persen, yang lebih rendah dibandingkan NPF nasional yang mencapai 3,67 persen. Kota Banjarmasin mencatatkan angka tertinggi dalam penyaluran pembiayaan ini, yaitu Rp52 miliar, atau 59,99 persen dari total penyaluran di provinsi itu. Agus juga menggarisbawahi bahwa layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi atau *fintech lending* di Kalimantan Selatan mengalami perkembangan yang positif, dengan total pinjaman outstanding mencapai Rp743 miliar pada Juli 2024. Jumlah rekening penerima pinjaman aktif mencapai 244.807 entitas, serta mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 49,30 persen yoy jika dibandingkan dengan Rp682 miliar pada bulan Juni 2024. Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) juga terjaga pada angka 1,49 persen, di bawah TWP90 nasional yang dicatatkan pada 2,54 persen. Di sisi lain, total dana yang disalurkan oleh pemberi pinjaman di Kalsel adalah sebesar Rp3,45 miliar, sementara total pinjaman yang disalurkan mencapai Rp278,99 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa banyak dana yang dipinjam oleh borrower berasal dari luar provinsi. Dalam perkembangan pasar modal, per Agustus 2024, sektor Pasar Modal di Kalimantan Selatan juga menunjukkan pertumbuhan yang baik. Ini terlihat dari peningkatan nilai kepemilikan saham, jumlah Single Investor Identification (SID), dan nilai transaksi saham, masing-masing mengalami pertumbuhan sebesar 22,96 persen, 11,41 persen, dan 33,49 persen. ANTARA