YOGYAKARTA –
**Borneonews - Bantul**, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) baru saja meresmikan pameran seni rupa yang mengangkat tema "Akar Rasa Setara". Pameran ini merupakan hasil inisiatif dari Jogja Disability Arts, sebuah komunitas seniman disabilitas yang berbasis di Yogyakarta. Lokasi pameran ini diselenggarakan di ruang pamer Equalitera Artspace yang bertempat di Jalan Ringroad Barat, Kelurahan Tamantirto, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tenaga Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudi Gunawan, menyatakan menurut harapannya, pameran ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang untuk memanfaatkan seni sebagai alat yang mengedukasi dan memfasilitasi terciptanya masyarakat yang lebih inklusif. Rudi memberikan pernyataan ini usai pembukaan pameran pada Senin sore. Pameran "Akar Rasa Setara" menampilkan karya-karya seni rupa dari 35 seniman serta empat komunitas seni. Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari soft peluncuran Equalitera Artspace dan akan berlangsung selama 15 hari, terhitung dari 30 September hingga 14 Oktober. Kegiatan ini mendapatkan dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Rudi mengungkapkan, melalui medium seni budaya, pendekatan yang dilakukan menjadi lebih halus. Dia menggarisbawahi bahwa posisi seniman disabilitas dan non-disabilitas dalam berkarya harus setara, yang merupakan poin penting dari pameran ini. Selain itu, Rudi juga membahas tentang berbagai program yang telah tersedia di Kementerian Kominfo untuk mendukung penyandang disabilitas. Kemenkominfo kini memiliki sejumlah balai latihan kerja yang dapat diakses oleh masyarakat disabilitas serta program pendidikan yang ditawarkan melalui balai-balai tersebut. Lebih lanjut, Rudi menjelaskan bahwa Kemenkominfo telah melakukan sejumlah upaya untuk memastikan aksesibilitas website kementerian. Fasilitas seperti fitur bahasa isyarat untuk penyandang tunarungu serta fitur suara bagi penyandang tunanetra sudah ada. Ini menunjukkan keseriusan kementerian dalam memastikan bahwa masyarakat penyandang disabilitas dapat menjadi bagian dari komunitas yang lebih luas. Sementara itu, kurator pameran, Nano Warsono, menjelaskan makna dari tema "Akar Rasa Setara". Akar di sini dianggap sebagai sumber dari keadaan, sementara *rasa* mencerminkan estetika yang khas dari Indonesia. Ia menegaskan, tema ini mencerminkan tradisi, adat istiadat, kearifan lokal, dan kebiasaan sehari-hari yang secara sadar atau tidak sadar mengandung semangat kesetaraan dan inklusivitas. Nano juga menuturkan bahwa spirit inklusivitas dalam masyarakat nampak dari berbagai aspek, seperti praktik gotong royong, keberadaan abdi dalem di Keraton yang mengakui pentingnya inklusi disabilitas, serta punakawan yang muncul dalam cerita pewayangan. Selama pameran berlangsung, para pengunjung dapat menikmati penampilan kelompok musik Gandana, yang namanya berasal dari kata *ganda guna*. Kelompok musik ini berinovasi dengan memodifikasi alat bantu disabilitas menjadi alat musik, seperti kursi roda yang berfungsi sebagai drum, *krug* yang diubah menjadi bass, serta alat musik lainnya seperti gitar dan biola. Acara ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah pameran seni, tetapi juga sebagai wadah untuk menjalin komunikasi dan berbagi pengalaman antara seniman dari berbagai latar belakang, baik disabilitas maupun non-disabilitas. ANTARA