JAMBI –
**Borneonews - Jambi**, Dosen Universitas Jambi (Unja) telah mengimplementasikan teknologi *artificial intelligence* (AI) dalam pengembangan alat untuk mendeteksi hama pada tanaman jagung. Alat ini dirancang khusus untuk membantu para petani dalam upaya meningkatkan produktivitas hasil pertanian mereka. Ketua Pengabdian Masyarakat Program Studi Sistem Informasi dan Biologi Fakultas Sains Unja, Ulfa Khaira, menjelaskan bahwa teknologi AI ini digunakan untuk mengidentifikasi hama pada tanaman jagung dan mengelola hama menggunakan agen hayati. Tim pengabdian masyarakat akan terus berinovasi di bidang teknologi pertanian untuk membantu meningkatkan hasil panen para petani. Inovasi terbaru ini menggunakan aplikasi bernama Coditor (Corn Disease Detector), yang bertujuan untuk mengenali penyakit yang menyerang tanaman jagung dan menerapkan strategi pengendalian yang efektif. Salah satu contoh penerapan aplikasi ini dilakukan oleh kelompok tani Dewa Buluran yang berlokasi di Kota Jambi, bekerja sama dengan Balai Pelaksana Penyuluh Pertanian di Kecamatan Telanaipura. Ulfa menambahkan, tujuan dari inovasi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan kelompok tani dalam mengidentifikasi penyakit pada tanaman jagung. Selain itu, aplikasi ini juga bertujuan untuk membantu petani dalam menerapkan metode pengendalian penyakit yang tepat melalui penggunaan agen hayati yang berdasar pada hasil identifikasi. Para dosen dan mahasiswa Unja memberikan pendampingan langsung kepada petani dalam memanfaatkan aplikasi Coditor. Dalam proses ini, petani menerima pelatihan tentang penggunaan aplikasi untuk mendeteksi penyakit pada tanaman jagung secara efektif. Pendampingan tersebut dilakukan di lapangan agar para petani dapat langsung mempraktikkan penggunaan aplikasi. Aplikasi Coditor memiliki kemampuan untuk mendeteksi penyakit seperti hawar daun dan karat daun pada tanaman jagung. Selain itu, petani juga mengikuti pelatihan mengenai pengendalian hama menggunakan agen hayati. Dalam rangka itu, dosen dan mahasiswa Unja juga menunjukkan cara pembuatan *Plant Growth Promoting Rhizobacteria* (PGPR) yang dibuat dari akar bambu. PGPR merupakan kelompok bakteri yang memberikan manfaat dengan mengkolonisasi rizosfir, area tanah tipis sekitar akar. Aktivitas PGPR berperan positif terhadap pertumbuhan tanaman, baik secara langsung maupun tidak langsung. Markis, ketua kelompok tani Dewa Buluran, menyatakan bahwa anggota kelompoknya sangat antusias untuk mengikuti sesi pendampingan ini. Harapannya, penerapan teknologi AI melalui aplikasi Coditor dapat mempercepat dan mempermudah proses deteksi penyakit pada tanaman jagung. Selain itu, penggunaan agen hayati dalam pengendalian hama diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, yang tentunya lebih ramah lingkungan. Syamsul Bahri, perwakilan UPTD Penyuluhan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi, juga menegaskan bahwa penerapan teknologi ini tidak hanya memberikan kemudahan bagi petani, tetapi juga berpotensi untuk meningkatkan hasil panen serta pendapatan mereka. ANTARA