JAKARTA –
**Borneonews - Tokyo**, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo memberikan penghargaan terhadap kemajuan yang telah dicapai oleh perawat asal Indonesia di Jepang. Hal ini terlihat dari peningkatan dalam jumlah dan kualitas mereka selama 17 tahun berjalannya program *Economic Partnership Agreement* (EPA). Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Maria Renata Hutagalung, menyatakan bahwa pemerintah kedua negara terus berkolaborasi secara erat untuk menjamin kelancaran penempatan serta peningkatan kualitas pendidikan bagi calon perawat dan *caregiver* Indonesia yang akan bekerja di Jepang. Citra positif yang telah dibangun oleh para peserta program EPA selama hampir dua dekade ini menjadi dorongan bagi pemerintah Indonesia dan Jepang untuk melanjutkan program tersebut, yang akan diakui dalam Protokol Perubahan *Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement* (IJEPA) yang dijadwalkan disepakati pada bulan Agustus 2024. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah simposium yang memperingati program pengiriman perawat dan *caregiver* Indonesia ke Jepang, yang merupakan bagian dari skema EPA. Acara penting ini berlangsung pada hari Minggu di Tokyo. Diakuinya bahwa kebutuhan akan *caregiver* dan perawat di Jepang tetap berada di peringkat teratas di antara sektor-sektor yang dibuka untuk tenaga kerja asing. KBRI Tokyo, menurut penuturan Maria Renata, sering menerima permintaan dan konsultasi dari pemerintah daerah, asosiasi, serta pengelola fasilitas sosial di Jepang mengenai perekrutan tenaga kerja dari Indonesia. Dia menyampaikan bahwa menjadi suatu kebanggaan tersendiri karena salah satu alasan utama meningkatnya perekrutan tenaga kerja dari Indonesia adalah reputasi baik yang dimiliki oleh *caregiver* dan perawat asal Indonesia. Mereka dikenal karena sikap ramah, kesabaran, serta kemampuan dalam menjalani tugas mereka dengan sigap. Maria Renata berharap ke depan, semakin banyak calon perawat dan *caregiver* Indonesia yang memanfaatkan program ini untuk mengembangkan kemampuan dan kompetensi mereka. KBRI Tokyo, lanjutnya, berkomitmen untuk terus memberikan perlindungan serta pembinaan kepada semua Warga Negara Indonesia (WNI) yang membutuhkan. Dia juga mengingatkan pentingnya mengikuti aturan yang berlaku di Jepang, serta melakukan pembaruan data di portal yang diperuntukkan bagi WNI dan melaporkan diri bagi mereka yang belum melakukannya di KBRI Tokyo. Ketua Dewan Pengurus Luar Negeri Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Mohamad Yusup, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan yang diberikan oleh KBRI Tokyo terhadap kegiatan para perawat Indonesia yang berada di Jepang. Menurutnya, PPNI DPLN Jepang terus bersinergi dengan KBRI Tokyo, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), AOTS, dan organisasi-organisasi lain untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan positif. Kegiatan tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan WNI yang rutin, belajar bersama, bakti sosial, serta seminar-seminar. Dalam seminar yang dihelat, terdapat empat pembicara yang dihadirkan, yaitu Kiichi Inagaki dari Japan International Corporation of Welfare Services (JICWELS), profesor Akiko Asai dari JF. Oberlin University Tokyo, serta dua perwakilan *EPA* lainnya, Ina Titi Wulandari dan Lisa Yusida. Kiichi Inagaki menegaskan bahwa JICWELS senantiasa membuka pintu bagi perawat dan *caregiver* di Indonesia, termasuk melalui diskusi untuk menyelesaikan berbagai masalah, kunjungan ke tempat kerja, pelatihan bahasa, dan persiapan untuk ujian nasional. Akiko Asai juga memberikan pemaparan mengenai hasil risetnya selama 10 tahun, yang menunjukkan bahwa perawat Indonesia dengan mudah diterima oleh masyarakat Jepang berkat sikap ramah, ketekunan, dan dedikasi mereka dalam bekerja. Berdasarkan data yang terdaftar per 1 Januari 2024, jumlah peserta program EPA dari Indonesia mencapai 3.950 orang. Dari jumlah tersebut, 3.196 orang merupakan kandidat *careworker*, sedangkan 754 orang adalah kandidat perawat. ANTARA