JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Obligasi Indonesia diprediksi akan mendapatkan dampak positif yang signifikan akibat rencana pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, yang diharapkan akan terjadi pada November 2024. Proyeksi ini diungkapkan oleh Daryl Ho, Senior Investment Strategist dari DBS, saat sesi media briefing yang dilaksanakan secara daring. Pemangkasan suku bunga berimplikasi langsung pada imbal hasil obligasi, di mana ada hubungan terbalik antara imbal hasil dan harga obligasi itu sendiri. Daryl menjelaskan, "Kondisi ini akan membawa dampak positif untuk *capital gain* obligasi. Jika imbal hasil naik, maka harga obligasi akan bergerak sebaliknya," ujarnya. Lebih lanjut, Daryl mengungkapkan bahwa penurunan Fed Fund Rate (FFR) berpotensi mengurangi nilai dolar AS. Hal ini tentu akan memberikan keuntungan bagi Indonesia, mengingat negara ini memiliki utang luar negeri yang relatif besar. Sebagai konsekuensinya, jika nilai dolar AS melemah, beban utang luar negeri Indonesia akan menjadi lebih ringan. "Memang, jika dolar AS tetap berada pada posisi kuat, Indonesia akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam pelunasan utangnya. Namun, dengan terjadinya pemangkasan suku bunga The Fed yang berujung pada melemahnya dolar AS, kemampuan Indonesia untuk memenuhi kewajiban utangnya bakal lebih baik," jelas Daryl. Tingkat kredit obligasi Indonesia juga menjadi pertimbangan penting bagi investor. Dengan peringkat BBB, obligasi ini menawarkan peluang keuntungan yang cukup menarik dengan risiko yang dapat dikelola. Obligasi yang memiliki tenor antara 7 hingga 10 tahun yang diterbitkan oleh berbagai perusahaan Indonesia kian menarik minat investor, berkat janjinya terhadap pengembalian yang stabil dalam jangka waktu yang lebih lama. Selain itu, pandangan dari Joanne Goh, Senior Investment Strategist di DBS, menunjukkan bahwa pasar saham di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia, juga diprediksi akan mendapatkan dampak positif. Pelonggaran kebijakan moneter di AS dan penurunan FFR diperkirakan akan meningkatkan arus masuk modal ke negara-negara berkembang, khususnya di ASEAN, dan akan menguntungkan sektor-sektor yang melibatkan perusahaan-perusahaan besar (*blue-chip*). Sektor perbankan, sebagai salah satu yang terbesar di pasar ekuitas Indonesia dengan komposisi mencapai 30 persen, diharapkan akan meraih manfaat terbesar dari peningkatan likuiditas yang disebabkan suku bunga yang rendah. Joanne mencatat bahwa, meskipun ada risiko terhadap profitabilitas akibat penurunan suku bunga, pertumbuhan ekonomi yang solid di ASEAN akan mendukung pertumbuhan yang lebih lanjut. Selain perbankan, sektor Dana Investasi Real Estat (DIRE) di kawasan ASEAN juga diyakini akan mendapatkan keuntungan dari langkah pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Joanne menambahkan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu pasar yang mendapatkan keuntungan signifikan dari strategi China Plus One, di mana investasi asing langsung (FDI) mulai dialihkan ke negara-negara selain China. Permintaan domestik yang kuat dan penurunan suku bunga akan semakin mendorong konsumsi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. "Secara keseluruhan, Indonesia merupakan salah satu pasar yang sangat diperhitungkan oleh DBS di ASEAN," tambah Joanne. ANTARA