MAKASSAR –
**Borneonews - Mamuju**, Jumlah Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diperoleh dari perbankan di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) pada triwulan kedua tahun 2024 tercatat mencapai Rp3,74 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sebesar 12,38 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Menurut Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sulbar, Gunawan Purbowo, dalam penjelasannya di Mamuju, sebutan "KUR di Sulbar yang mencapai nilai tersebut didominasi oleh sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan, yang menyumbang sekitar 55,06 persen." Purbowo juga mengungkapkan bahwa jika kita meninjau tahun lalu, total KUR pada triwulan II tahun 2023 tercatat sebesar Rp3 triliun, dengan pertumbuhan yang tercatat sekitar enam persen. Peningkatan ini mencerminkan optimisme dan bantuan perbankan dalam mendukung UMKM di daerah tersebut. Pada triwulan II tahun 2024, kredit untuk usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) juga menunjukkan pertumbuhan yang positif. Purbowo menyatakan bahwa total kredit UMKM di Sulbar berhasil mencapai Rp7,85 triliun, mengalami pertumbuhan sebesar 6,23 persen. Sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan kembali menjadi penyumbang utama, dengan kontribusi mencapai 41,61 persen dari total kredit yang disalurkan. Namun, meskipun pencapaian ini menggembirakan, Purbowo mengingatkan bahwa terdapat tantangan serius yang harus dihadapi. Menurutnya, jumlah kredit bermasalah di Sulbar mencapai 4,38 persen, mendekati ambang batas yang ditetapkan sekitar 5 persen. Ia menekankan pentingnya perhatian terhadap kredit bermasalah ini agar bisa diselesaikan dengan baik dan tidak terulang di masa mendatang. Dalam hal ini, perbankan di Sulbar berkomitmen untuk terus memberikan dukungan kredit yang diperlukan guna mengoptimalkan pembangunan di sektor unggulan daerah. Purbowo menegaskan, "Sulbar memiliki beberapa komoditas yang diunggulkan, antara lain padi, ikan tuna, kakao, kelapa sawit, minyak kelapa, dan ikan cakalang. Komoditas tersebut dinilai unggul berdasarkan kapasitas produksi, luas lahan, serapan tenaga kerja, dan jumlah pelaku usaha." Meski demikian, dalam upaya mengembangkan komoditas unggulan tersebut, masih terdapat berbagai tantangan. Purbowo menyebutkan adanya masalah dalam produktivitas yang belum optimal, rendahnya penerapan teknologi, serta terbatasnya pengelolaan produk olahan. Semua isu ini perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk memastikan pengembangan yang berkelanjutan dan efektif bagi pertumbuhan perekonomian daerah Sulawesi Barat. ANTARA