**Borneonews - Jakarta**, Mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, mengungkapkan adanya dua kemungkinan yang menyebabkan seseorang menganut paham ekstrem dalam beragama. Menurutnya, paham ekstrem terjadi ketika seseorang memandang suatu hal dengan berlebihan atau melampaui batas yang seharusnya.
Dalam sebuah webinar yang mengusung tema pendekatan multikultural pada bimbingan keagamaan, diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, Lukman menjelaskan pentingnya menghindari dua sikap tersebut. Ia menekankan bahwa sikap berlebihan, meskipun itu berkaitan dengan kebaikan, pada dasarnya tetap akan membawa dampak negatif.
Sebagai ilustrasi, Lukman memberikan contoh mengenai kebiasaan makan dan minum. Ia menyatakan bahwa meskipun konsumsi makanan dan minuman adalah tindakan yang baik untuk menjaga stamina dan metabolisme tubuh, namun jika dilakukan secara berlebihan, tentu akan berakibat buruk bagi kesehatan maupun lingkungan.
Lebih jauh, Lukman menambahkan bahwa manusia tidak boleh melampaui batas, karena segala sesuatu memiliki limit tertentu, kecuali dalam hal ketuhanan. Dalam konteks keagamaan, penting untuk tidak hanya membaca teks-teks yang terdapat dalam kitab suci tanpa memahami konteks di sekelilingnya. Menurutnya, konteks adalah situasi yang melatarbelakangi munculnya teks tersebut.
Ia menegaskan bahwa teks keagamaan tidak mungkin ada tanpa konteks. Oleh karena itu, jika seseorang hanya mengandalkan teks-teks keagamaan tanpa memperhatikan situasi dan kondisi di mana teks tersebut lahir, maka ia berpotensi untuk mengabaikan inti ajaran agama yang sesungguhnya. "Jika inti ajaran agama sudah diingkari, maka dapat dipastikan orang tersebut telah bersikap ekstrem," ucap Lukman.
Lukman Hakim juga mengingatkan bahwa dalam memahami teks keagamaan, seseorang perlu bersikap hati-hati. Ia menjelaskan bahwa terkadang ada kecenderungan di mana seseorang menafsirkan kitab suci atau perkataan pemuka agama secara bebas tanpa batas. Ini dapat menyebabkan interpretasi yang tidak sesuai dengan maksud asli dari teks itu sendiri, dan dapat menyebabkan pengingkaran terhadap inti ajaran agama.
Ia menandaskan bahwa ada dua sikap yang ekstrem dalam menafsirkan teks: pertama, bersikap kaku dengan hanya memegang pada teks tanpa mengindahkan konteksnya; kedua, bersikap terlalu longgar hingga interpretasi yang diajukan terlepas dari esensi aslinya.
Lukman Hakim menyoroti pentingnya moderasi dalam beragama sebagai upaya untuk mencegah pandangan ekstrem dalam menjalankan ajaran agama. Ia menegaskan bahwa keragaman interpretasi dalam beragama adalah hal yang alami, sementara moderasi bertujuan untuk menjaga agar praktik keagamaan tidak melampaui batas dan tidak berlebihan.
Ia juga berpendapat bahwa beragama seharusnya melibatkan pemahaman yang mendalam terhadap ajaran-ajaran agama, di mana keyakinan yang diimanikan harus terefleksikan dalam tindakan nyata. Oleh karena itu, amalan harus berlandaskan pada iman yang kokoh.
Dalam penutup pernyataannya, Lukman Hakim menegaskan bahwa moderasi dalam beragama adalah suatu proses yang terus menerus, bertujuan agar cara beribadah dan beragama tidak terjerumus ke dalam sikap ekstrem dengan berlebihan atau melampaui batas.
ANTARA
Pentingnya Moderasi dalam Beragama untuk Cegah Paham Ekstrem
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Bayi Laki-Laki Ditemukan di Pelataran Musala di Kotabaru
Warga Kasongan Dihebohkan Penemuan Mayat Membusuk di Parit Jalan DI Panjaitan
Topan Champi Ancam Taiwan, Sekolah dan Perkantoran Ditutup di 20 Wilayah
Distribusi Masih Jadi Hambatan, Industri Komik Indonesia Dinilai Punya Potensi Besar
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Komentar (0)
Memuat komentar…







