BORNEONEWS, Palangka Raya - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmat) Palangka Raya mencatat, ada 68 kejadian kebakaran selama Januari hingga 30 September 2024. Dari jumlah tersebut, ada 28 kali yang terjadi dalam waktu dekat.
Kerugian akibat kebakaran ini ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah. Beruntung, dalam 68 kejadian tersebut, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka.
Koordinator Call Center 112 Palangka Raya, Sucipto, mengungkapkan bahwa cuaca panas dan kemarau menjadi penyebab utama tingginya kasus kebakaran rumah/bangunan.
"Dari tanggal 1 hingga 30 September (2024) sudah ada 68 kejadian kebakaran, mulai dari kebakaran rumah, gedung, rumah ibadah dan gedung, jadi totalnya ada 68 kejadian," ujar Sucipto, Selasa, 1 Oktober 2024.
Lebih lanjut, Sucipto menjelaskan bahwa kebakaran bangunan rumah mayoritas disebabkan oleh arus pendek listrik dan kelalaian manusia. Penggunaan kabel listrik yang tidak standar nasional Indonesia (SNI) diduga menjadi penyebab utama korsleting listrik.
--page
Menyikapi situasi ini, Sucipto mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati terhadap potensi kebakaran.
"Kalo korsleting listrik itu diduga bangunan rumah tersebut menggunakan kabel listrik yang tidak standar nasional Indonesia (SNI)," ungkapnya. (PATHUR/Y)









