PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai ekspor dan impor Kalimantan Tengah disebut sama-sama mengalami penurunan pada Agustus 2024 seperti dalam rekaman Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng yang disampaikan pada Selasa, 1 Oktober 2024.

"Ekspor Kalteng pada Agustus 2024 tercatat senilai US$233,61 juta, mengalami penurunan sebesar 13,76 persen dibandingkan dengan Juli 2024," kata Kepala BPS Kalteng , Agnes Widiastuti menyampaikan informasinya.

Penurunan ini juga menurutnya lebih signifikan jika dibandingkan dengan Agustus 2023, yaitu sebesar 30,12 persen. Meskipun demikian, Kalteng tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu provinsi dengan kontribusi ekspor yang cukup besar di Indonesia.

"Komoditas utama yang diekspor dari Kalimantan Tengah selama Agustus 2024 meliputi batu bara, minyak kelapa sawit, bijih zirconium, niobium dan tantalum, kayu lapis, kayu olahan, karet remah, bijih titanium, dan lignit," tuturnya.

Sementara negara tujuan utama ekspor dari provinsi ini adalah Jepang, India, dan Tiongkok. Ketiga negara ini terus menjadi pasar utama bagi produk-produk unggulan Kalimantan Tengah.

"Di sisi lain, impor Kalimantan Tengah pada Agustus 2024 juga mengalami penurunan yang cukup tajam," tegas Agnes.

Nilai impor tercatat sebesar US$2,59 juta, katanya, turun 31,12 persen dibandingkan dengan Juli 2024 dan turun 78,82 persen dibandingkan dengan Agustus 2023.

"Penurunan ini menunjukkan adanya pengurangan kebutuhan impor di provinsi Kalteng," tutur Agnes.

Komoditas utama yang diimpor oleh Kalteng selama Agustus 2024 adalah aspal, pupuk, dan mesin mekanik lainnya. Sementara negara asal utama impor adalah Singapura, Federasi Rusia, dan Malaysia. Ketiga negara ini menjadi pemasok utama barang-barang yang dibutuhkan oleh Kalimantan Tengah.

Meskipun terjadi penurunan pada nilai ekspor dan impor, Agnes menjelaskan bahwa neraca perdagangan luar negeri Kalteng pada Agustus 2024 tetap mencatat surplus sebesar US$231,02 juta. Surplus ini menunjukkan bahwa nilai ekspor masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai impor, yang merupakan indikator positif bagi perekonomian provinsi tersebut.

"Secara keseluruhan, meskipun terjadi penurunan pada nilai ekspor dan impor, Kalimantan Tengah tetap menunjukkan kinerja perdagangan yang positif dengan surplus yang signifikan. Hal ini diharapkan dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut di masa mendatang," katanya. (TESTI PRISCILLA/H)