BORNEONEWS, Palangka Raya - Impor pupuk menjadi salah satu perhatian utama dalam penyampaian data statistik pada Selasa, 1 Oktober 2024.
Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti mengatakan bahwa nilai impor pupuk di Kalteng pada Agustus 2024 mencapai US$0,54 juta.
"Dari kelompok terbesar impor Kalteng pada Agustus 2024 salah satunya ialah kelompok pupuk senilai US$0,54 juta," kata Agnes.
Sementara itu, Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Akhmad Tantowi mengungkapkan bahwa tingginya nilai impor pupuk ini disebabkan oleh kebutuhan besar akan pupuk di sektor perkebunan kelapa sawit, yang merupakan komoditi utama di Kalteng.
"Karena di Kalteng ini perkebunan kelapa sawit kan menjadi komoditi utama kita di perkebunan, jadi banyak kebutuhan pupuk sehingga harus impor karena pupuk di dalam negeri tidak mencukupi," kata Tantowi.
Sebagian besar pupuk yang diimpor digunakan oleh perusahaan perkebunan besar, bukan oleh perorangan.
"Yang impor pupuk ini kebanyakan adalah untuk perusahaan ya, bukan perorangan," tambah Tantowi.
Negara asal impor pupuk tersebut kata Tantowi biasanya adalah Laos dan Rusia, yang dikenal memiliki kualitas pupuk yang sesuai dengan kebutuhan perkebunan kelapa sawit di Kalteng.
Tantowi juga menyebutkan bahwa ada rencana untuk mengembangkan produksi pupuk lokal guna memenuhi kebutuhan dalam daerah.
"Kemungkinan kedepan akan dirancang bagaimana agar kita bisa membuat sendiri pupuknya untuk memenuhi kebutuhan di dalam daerah," ujarnya lagi.
Namun, ia menekankan bahwa produksi pupuk lokal harus memenuhi spesifikasi khusus yang dibutuhkan oleh perkebunan kelapa sawit.
Kebutuhan pupuk yang tinggi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dan pelaku industri perkebunan di Kalteng.
--page
Mereka harus mencari solusi agar ketergantungan pada impor pupuk dapat dikurangi. Salah satu solusi yang diusulkan adalah dengan meningkatkan kapasitas produksi pupuk dalam negeri melalui inovasi dan teknologi.
Dengan adanya upaya-upaya tersebut, diharapkan sektor perkebunan kelapa sawit di Kalteng dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian daerah.
Tantangan ini juga menjadi peluang bagi pengembangan industri pupuk lokal yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.(TESTI PRISCILLA/R)









