SURABAYA –
**Borneonews - Surabaya**, Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak, melakukan silaturahim dengan para ulama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Pertemuan tersebut berlangsung di Surabaya pada hari Selasa. Kedatangan Khofifah dan Emil disambut hangat oleh Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin. Hadir pula dalam pertemuan tersebut Rois Syuriah PWNU Jatim, KH Anwar Iskandari, serta Wakil Rois Syuriah KH Abdul Matin dan jajarannya. Khofifah mengungkapkan rasa syukur atas sambutan yang baik dan menyatakan bahwa silaturahim ini merupakan bagian dari hubungan keluarga besar Nahdlatul Ulama. “Kami sebenarnya hampir tidak membahas isu politik dalam pertemuan ini. Diskusi kami berlangsung mendalam dan hangat, terutama ketika berbicara mengenai pendidikan,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mempersiapkan generasi Santri dan lembaga pendidikan di Jawa Timur untuk masa depan yang lebih baik. Selama pertemuan, banyak masukan konstruktif dari para ulama dan guru besar tentang strategi dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. “Intinya, ini adalah kesempatan bagi saya dan Mas Emil untuk ‘belanja’ masalah, yaitu menggali isu-isu yang dapat ditangani sesuai kewenangan pemerintah provinsi dan mencari langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan melalui kolaborasi lintas lembaga, baik dari dalam maupun luar negeri,” ujarnya. Cagub petahana ini juga menyebutkan salah satu program yang sedang dalam proses pengembangan, yakni program magang untuk siswa SMK di Jepang, khususnya dalam bidang otomotif. Ia menjelaskan bahwa masih banyak program lain yang direncanakan untuk meningkatkan kualitas SDM di Jawa Timur. “Masukan yang kami terima dari diskusi ini akan kami rumuskan untuk memastikan bagaimana generasi Jawa Timur dapat menjadi generasi emas yang berkualitas di masa mendatang,” imbuhnya. Di sisi lain, KH Abdul Hakim Mahfudz menjelaskan bahwa penyerahan sambutan Khofifah dan Emil bukan semata-mata untuk momen politik, melainkan merupakan manifestasi dari hubungan kekeluargaan yang erat di antara mereka dalam konteks NU. “Kami selalu dekat dengan Bu Khofifah karena memang bagian dari keluarga besar NU. Kami sudah membahas berbagai masalah, terutama di sektor pendidikan, tanpa beranjak ke isu politik,” tuturnya. Ia juga menegaskan bahwa diskusi untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi telah berlangsung lama, sejalan dengan semangat kebersamaan dalam satu keluarga besar. Terkait banyaknya kader NU yang berlatar belakang politik, Gus Kikin menegaskan bahwa posisi NU adalah untuk menjaga keseimbangan dan harmoni di dalam masyarakat. “Di berbagai daerah, banyak kader NU yang mencalonkan diri. Tugas kami adalah memastikan semua tetap harmonis dan bersatu, menjaga ukhuwah agar tercipta suasana yang rukun dan damai di masyarakat,” pungkasnya. ANTARA