JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi, mengungkapkan bahwa kinerja positif Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo telah mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak di tingkat internasional. Hal tersebut terungkap dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh *International Police Science Association* (IPSA) yang bekerja sama dengan *Institute for Economics and Peace* (IEP). Dalam laporan berjudul *World Internal Security and Police Index* (WISPI) 2023, IPSA dan IEP mengevaluasi kemampuan kepolisian di berbagai negara dalam menjaga keamanan, ketertiban masyarakat, serta melindungi keselamatan anggotanya. Dari hasil penelitian tersebut, Polri berhasil meraih peringkat ke-63 dari total 125 negara yang diteliti, dengan skor rata-rata 0,510. Haidar Alwi menyatakan bahwa keberhasilan ini menunjukkan kemajuan yang signifikan, mengingat Polri sebelumnya berada di posisi ke-84 dari 127 negara. "Ini merupakan lompatan yang signifikan dan diakui oleh dunia internasional," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa penelitian ini menggunakan 12 indikator yang dikelompokkan ke dalam empat domain yang berbeda. Domain pertama adalah kapasitas, yang mengukur sejauh mana negara menilai sumber daya yang dialokasikan untuk memperkuat aparat keamanan. Domain kedua adalah proses, yang berfokus pada efektivitas penggunaan sumber daya tersebut. Domain ketiga, legitimasi, mengukur persepsi publik terhadap aparat keamanan. Sedangkan domain terakhir, hasil, mencerminkan kemampuan dalam menganalisis ancaman terhadap keamanan dalam negeri. Polri memperoleh skor 0,380 untuk domain kapasitas, 0,130 untuk domain proses, 0,580 untuk domain legitimasi, dan mengantongi skor tertinggi 0,920 untuk domain hasil. Haidar menegaskan bahwa skor yang lebih tinggi menunjukkan kinerja yang lebih baik. Secara keseluruhan, Indonesia mencatat skor tertinggi dalam domain hasil dengan nilai 0,920, menduduki peringkat ketiga setelah Singapura (0,960) dan Norwegia (0,940). "Ini menunjukkan bahwa gangguan keamanan yang ada saat ini tergolong rendah dan bukan merupakan ancaman serius bagi keamanan dalam negeri Indonesia," jelasnya. Meskipun prestasi ini patut diapresiasi, Haidar mengingatkan agar Polri tidak terlena. Ia menekankan pentingnya perbaikan di domain kapasitas dan proses sehingga efektivitas penggunaan sumber daya bisa ditingkatkan. "Kami perlu meningkatkan kapasitas dan proses terkait alokasi serta efektivitas sumber daya, yang skornya masih lebih rendah dibandingkan dua domain lainnya," katanya. Sementara itu, data menunjukkan bahwa angka kriminalitas di Indonesia, di kawasan Asia Tenggara, serta di tingkat global mengalami peningkatan. Berdasarkan *Global Criminalization Crime Index*, Indonesia berada di peringkat ke-21 dalam daftar negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi di dunia. Oleh sebab itu, Haidar berpendapat bahwa dengan dukungan dari berbagai pihak, Polri dapat melakukan transformasi yang lebih baik. Ia optimis bahwa dengan dukungan dari pemerintah, masyarakat, serta sinergi dengan lembaga lain, Polri mampu mengatasi tantangan keamanan baik di dalam negeri maupun secara global. "Dengan adanya terobosan dan perbaikan kinerja yang signifikan, saya yakin Polri dapat mengendalikan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat," tutupnya. ANTARA