KUPANG –
**Borneonews - Labuan Bajo**, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Koperasi, dan UMKM (Disnakertranskopumkm) Manggarai Barat, Theresia Asmon, mengungkapkan bahwa sejumlah Balai Latihan Kerja (BLK) di Labuan Bajo telah berhasil meluluskan 644 individu dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Program ini bertujuan mendukung perkembangan sektor pariwisata yang semakin pesat. Dari total lulusan tersebut, sebanyak 348 orang merupakan laki-laki dan 296 orang perempuan. Menariknya, sekitar 84 persen atau sebanyak 540 orang dari mereka telah berhasil mendapatkan pekerjaan di berbagai industri. Selain itu, beberapa lulusan juga memutuskan untuk memulai usaha mereka sendiri. Ney Asmon, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa BLK yang berperan dalam pelatihan ini termasuk Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) BLK Kabupaten Manggarai Barat serta BLK yang dikelola oleh komunitas dan sekolah di Labuan Bajo. Di antara lembaga tersebut terdapat BLK Seminari, BLK Susteran Dian Yosefa, BLK SMK Stella Maris, BLK Susteran Gorontalo, dan juga kerjasama dengan beberapa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Manggarai Barat untuk program pelatihan tertentu. “Kami melakukan kolaborasi dengan beberapa BLK yang dikelola oleh komunitas dan SMK karena fasilitas yang mereka miliki sangat mendukung pelaksanaan pelatihan,” ujarnya. Pendanaan untuk pelatihan tersebut berasal dari pemerintah pusat melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di Lombok Timur. Instansi tersebut memberikan sejumlah paket pelatihan berbasis kompetensi yang relevan bagi Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP). Beragam jenis pelatihan telah diberikan, termasuk pelatihan kuliner, pengolahan kopi, menjahit, servis AC dan kelistrikan, pelatihan pemandu wisata, kerajinan tangan, bahasa asing, food and beverage, perhotelan, otomotif, teknologi informasi dan komunikasi, tata rias, serta fotografi. Semua program ini dirancang untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata yang terus tumbuh di wilayah Labuan Bajo. Salah satu faktor yang mempercepat penempatan kerja bagi lulusan adalah adanya skema pemagangan. Seusai pelatihan, peserta terlibat dalam pemagangan di industri pariwisata selama lima bulan, yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi mereka. Untuk memperluas peluang lulusan BLK di pasar kerja, pihaknya secara berkala mengadakan job fair. Dengan cara ini, pencari kerja dapat mengajukan lamaran ke berbagai perusahaan yang beroperasi di sektor pariwisata di Labuan Bajo. “Jika hanya pelatihan tanpa ada penyerapan di industri, mereka mungkin akan kembali ke kampung dan kehilangan minat untuk mencari kerja karena tidak mendapatkan informasi mengenai lowongan,” tambahnya. Oleh karena itu, penting untuk menyampaikan informasi tentang pemagangan dan job fair selama pelatihan berlangsung. Ney Asmon juga mencatat tingginya minat masyarakat untuk mengikuti pelatihan yang ditawarkan. Program pelatihan tersebut dirancang sesuai dengan kebutuhan industri pariwisata di Labuan Bajo, sehingga meningkatkan partisipasi dari calon peserta. Pada akhir setiap program, dilakukan evaluasi bersama, baik dari pendekatan maupun skema pelatihan setiap tahunnya, dengan keterlibatan dunia industri. Ia berharap bahwa dengan semakin banyaknya pelatihan yang dilaksanakan, akan tercipta sumber daya manusia yang kompeten dalam pengembangan industri pariwisata. Hal ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mengurangi angka pengangguran di Manggarai Barat. “Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga pelaku industri pariwisata, atas kolaborasi yang terus meningkat dari tahun ke tahun,” pungkasnya. ANTARA