DENPASAR –
**Borneonews - Denpasar**, Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) di Bali mengalami pengaruh signifikan akibat perayaan Hari Raya Galungan yang terjadi pada bulan September 2024. Plt Kepala BPS Bali, Kadek Agus Wirawan, memberikan penjelasan terkait dengan NTP yang dihitung berdasarkan dua komponen penting, yaitu indeks harga yang diterima petani (IT) dan indeks harga yang dibayar petani (IB). Pada bulan September lalu, nilai indeks harga yang diterima oleh petani tercatat sebesar 119,48. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani mencapai 121,47, di mana angka ini lebih tinggi dari nilai yang diterima. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya IB adalah harga komoditas daging babi. Kadek Agus menjelaskan bahwa dalam perayaan hari raya, petani tentu menghadapi peningkatan pengeluaran, baik untuk konsumsi pribadi maupun biaya produksi, termasuk harga daging babi. Hal ini menyebabkan adanya ketidakseimbangan di mana nilai indeks yang dibayar petani lebih tinggi daripada indeks yang diterima, dan pada akhirnya menyebabkan NTP berada di angka 98,36, yang berarti di bawah 100. Di sisi lain, BPS Bali juga menjelaskan bahwa indeks harga yang diterima petani yang mencapai angka 119,48 ini didorong oleh kenaikan harga beberapa komoditas pertanian seperti cengkeh, jeruk, dan kopi. Namun, komoditas yang terkait langsung dengan hari raya tidak berkontribusi positif terhadap kenaikan pendapatan petani. Indeks harga yang dibayar oleh petani, yang mencapai 121,47, dipengaruhi oleh harga komoditas bawang merah, rokok putih, serta daging babi. Meskipun demikian, Kadek Agus juga mengungkapkan adanya dampak positif dari hari raya bagi petani. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan permintaan akan produk-produk tertentu, seperti canang sari, yang dihasilkan oleh petani sesuai dengan subsektor. Ketika permintaan meningkat, harga yang diterima petani juga dapat meningkat, berpotensi meningkatkan indeks yang diterima oleh mereka. Dari segi subsektor, NTP Bali mengalami kenaikan pada kategori tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan. Namun, kelompok holtikultura dan perikanan pembudidayaan mengalami penurunan, menunjukkan adanya perbedaan dinamika dalam pasar pertanian di Bali saat ini. ANTARA