JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Penyediaan bahan bakar minyak (BBM) yang berkualitas tinggi merupakan langkah strategis yang dapat secara signifikan mengurangi tingkat polusi udara. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Budi Haryanto, yang mengungkapkan data bahwa polusi udara akibat BBM dengan kadar sulfur tinggi memberikan sumbangan sebesar 43 persen terhadap total polutan yang ada di Jakarta. Prof. Budi menekan pentingnya segera melakukan transisi dari BBM berkualitas rendah, yang masih mengenakan standar Euro 2 dengan kadar sulfur maksimal 500 ppm, menuju BBM yang lebih berkualitas, yaitu yang memenuhi standar Euro 4 dengan kadar sulfur tidak melebihi 50 ppm. Ia menegaskan bahwa langkah ini harus dilakukan secara menyeluruh untuk melindungi kesehatan masyarakat. Sebagai tambahan, kualitas udara yang buruk di Jakarta, yang sebagian besar disebabkan oleh penggunaan BBM berkualitas rendah, memberikan dampak yang cukup serius terhadap kesehatan masyarakat. Prof. Budi menjelaskan bahwa sumber polusi udara tidak hanya berasal dari BBM tetapi ketika polusi tersebut berada di atmosfer, kombinasi dari berbagai sumber polusi akan menciptakan dampak kesehatan yang lebih luas. "Efek kesehatan yang dirasakan merupakan akibat total dari polusi udara secara keseluruhan," ujarnya. Dalam konteks ini, Ketua Komite Penanggulangan Penyakit Respirasi dan Dampak Polusi Udara dari Kementerian Kesehatan, yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, Prof. Agus Dwi Susanto, memperkuat pendapat terkait bahaya polusi udara yang dihasilkan oleh BBM berkadar sulfur tinggi. Ia menjelaskan bahwa gas hasil pembakaran dari BBM, seperti *sulfur dioksida* (SO2), *nitrogen oksida*, dan partikel halus (*PM2.5*), merupakan zat iritan yang berkontribusi pada risiko penyakit pernapasan. Menurutnya, gejala yang muncul akibat iritasi tersebut dapat berlanjut menjadi peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan akutf (ISPA). Bila masalah ini tidak ditangani, hal ini dapat mengakibatkan infeksi yang lebih serius, seperti pneumonia, terutama pada individu yang sudah memiliki kondisi kesehatan yang buruk, seperti asma atau penyakit paru kronis. Lebih lanjut, Prof. Agus juga mencatat bahwa polusi udara dari BBM berkadar sulfur tinggi berkontribusi pada kenaikan jumlah kunjungan pasien yang dirawat di rumah sakit akibat serangan asma dan penyakit paru kronis. Sebuah penelitian yang dilakukan di RS Persahabatan pada tahun 2019 menunjukkan bahwa peningkatan polusi sebanding dengan kenaikan jumlah pasien serangan asma yang datang ke instalasi gawat darurat (IGD). Dalam menghadapi tantangan ini, penting bagi pemerintah untuk segera mengambil tindakan dalam mempercepat penyediaan BBM dengan kadar sulfur rendah. Prof. Agus merekomendasikan agar pemerintah juga aktif meningkatkan sistem transportasi publik yang lebih ramah lingkungan serta menerapkan regulasi yang ketat terhadap emisi dari industri untuk menekan tingkat polusi. "Beberapa langkah yang dapat diambil termasuk pengaturan kendaraan yang beroperasi, transisi ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, serta kebijakan pemerintah dalam membatasi jumlah kendaraan yang beredar di jalan," tuturnya. Saat ini, Jakarta sedang berjuang melawan masalah polusi udara yang parah, di mana salah satu faktor penyebab utamanya adalah penggunaan BBM dengan kadar sulfur yang tinggi. Berdasarkan laporan dari Clean Air Asia pada tahun 2024, kualitas BBM di Indonesia tercatat sebagai yang terburuk di Asia Tenggara, dengan kandungan sulfur mencapai 500 ppm (Euro 2), yang jauh di atas standar internasional sebesar 50 ppm (Euro 4). Dampak dari rendahnya kualitas BBM ini sangat dirasakan oleh penduduk di DKI Jakarta, dengan peningkatan polusi udara yang signifikan, yang berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan orang lanjut usia. ANTARA