**Borneonews - Hamilton, Kanada**, Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephane Dujarric, mengungkapkan keprihatinan mendalam mengenai krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Lebanon. Pada Selasa, Dujarric menyoroti peningkatan jumlah pengungsi akibat perintah evakuasi yang diberlakukan oleh Israel terhadap tiga puluh desa di bagian selatan Lebanon.
Dujarric menegaskan bahwa meskipun situasi di lapangan semakin berbahaya, personel Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) tetap melaksanakan tugas mereka. Dia menyatakan, "Tanpa bantuan sumber daya yang memadai, para pekerja kemanusiaan akan menghadapi risiko untuk meninggalkan seluruh populasi Lebanon tanpa dukungan yang sangat diperlukan."
Dia juga merujuk pada informasi dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (*Office for the Coordination of Humanitarian Affairs*, OCHA) yang memperkirakan bahwa jumlah pengungsi di Lebanon akan terus meningkat seiring dengan berlangsungnya perintah evakuasi oleh tentara Israel. Diperkirakan, lebih dari 100.000 orang sudah pindah ke Suriah dan lebih dari 200.000 orang lainnya telah mengungsi dari Lebanon selatan.
Ketika ditanya mengenai apakah tindakan militer Israel di Lebanon merupakan pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, Dujarric menegaskan bahwa aksi tersebut melanggar kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon, serta bertentangan dengan ketentuan Resolusi tersebut yang diadopsi pada 11 Agustus 2006. Resolusi itu juga menekankan penghentian aksi permusuhan antara Lebanon dan Israel serta pembentukan zona demiliterisasi di kawasan antara Garis Biru, yang merupakan perbatasan de facto antara keduanya, dan Sungai Litani, di mana hanya tentara Lebanon dan UNIFIL yang diperbolehkan memiliki senjata dan peralatan militer.
Lebih lanjut, Dujarric mencatat bahwa serangan yang terus dilakukan oleh Hizbullah dan kelompok bersenjata lain di sepanjang Garis Biru juga merupakan pelanggaran terhadap Resolusi 1701. Dia ditanya mengenai hak Israel untuk membela diri, Dujarric menjawab, "Setiap negara di wilayah ini tampaknya membela diri dengan cara masing-masing. Kami sangat mengharapkan de-eskalasi dan penghentian permusuhan."
Dujarric juga menambahkan bahwa saat ini tidak ada seruan untuk menarik personel PBB dari Lebanon, sehingga UNIFIL dan personel lainnya akan melanjutkan misi mereka di lapangan.
Terkait dengan situasi di Gaza, Dujarric melaporkan bahwa distribusi bantuan pangan bulanan untuk 1,4 juta orang di wilayah tersebut tidak dapat dilakukan akibat kekurangan sumber daya. Ia menjelaskan bahwa serangan darat, udara, dan laut oleh Israel terus berlangsung, yang mengakibatkan jatuhnya korban sipil dan pengungsian di dalam wilayah tersebut.
Dujarric juga memberikan informasi tentang evakuasi medis, menyebutkan bahwa pada hari Senin, delapan orang, termasuk tujuh anak, telah dievakuasi dari Gaza ke Rumania untuk menjalani perawatan medis yang khusus. Dia menekankan bahwa sekitar 12.000 pasien masih menunggu untuk dievakuasi sejak penutupan perbatasan Rafah pada bulan Mei dan masih membutuhkan bantuan segera.
ANTARA
Krisis Kemanusiaan Lebanon Memuncak, PBB Soroti Situasi Pengungsi
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Penipu Galang Dana Karhutla Raup Rp8 Juta Dibekuk
Pertamina Tambah Pasokan BBM dan Operasional SPBU
Bawa Tongkat Komando Berisi Belati ke DPRD Kalsel, Pria 47 Tahun Diamankan Polisi
TNI-Polri Kedepankan Pendekatan Dialogis dalam Mengamankan Dogiyai
Tolak Ajakan Berkelahi, Siswa SMP di Banjarmasin Tetap Dipaksa hingga Tersungkur
Survei IPO: Meutya Hafid Masuk 10 Besar Menteri Berkinerja Terbaik
Komentar (0)
Memuat komentar…







