PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya -  Hingga tanggal 1 Oktober 2024, Kota Palangka Raya telah mencatat 175 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah terparah dengan 127 kejadian, sedangkan Kecamatan Rakumpit menjadi satu-satunya kecamatan yang nihil karhutla.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, mengungkapkan bahwa tekstur tanah di Kecamatan Rakumpit yang didominasi pasir menjadi faktor utama minimnya kejadian karhutla.

"Kemungkinan tekstur tanah yang ada di Kecamatan Rakumpit itu beda dengan tektur tanah yang ada di wilayah kota (Palangka Raya), karena tekturnya itu berpasir," jelas Heri, Rabu, 2 Oktober 2024.

Tekstur tanah berpasir membuat api sulit bertahan lama dan menyebar, berbeda dengan wilayah lain yang didominasi lahan gambut yang mudah terbakar dan api dapat bertahan lama.

"Jadi kemungkinan itu alasan kenapa wilayah Rakumpit ini sulit untuk terbakar," ungkapnya.

--page

Meski Rakumpit nihil karhutla, Heri tetap mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati dalam aktivitas yang berpotensi menyebabkan karhutla.

Masyarakat diminta untuk segera melaporkan kejadian karhutla kepada BPBD Palangka Raya agar dapat ditangani dengan cepat dan tepat.

"Lapor jika mengetahui ada kejadian karhutla supaya BPBD Kota Palangka Raya cepat menanganinya," pungkas Heri Fauzi.

Berikut total kejadian karhutla di lima kecamatan di Kota Palangka Raya:

1. Kecamatan Jekan Raya: 127 kejadian

2. Kecamatan Sebangau: 26 kejadian

3. Kecamatan Pahandut: 13 kejadian

4. Kecamatan Bukit Batu: 9 kejadian

5. Kecamatan Rakumpit: 0 kejadian

Data ini menunjukkan bahwa meskipun wilayah Rakumpit memiliki keunggulan dalam hal tekstur tanah, kewaspadaan dan upaya pencegahan tetap penting untuk menjaga agar wilayah tersebut tetap bebas dari karhutla. (PATHUR/Y)