**Borneonews - Jakarta**, Pengamat politik yang juga menjabat sebagai Peneliti Utama di Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Prof. R Siti Zuhro, mengemukakan bahwa fenomena yang dikenal sebagai *gerakan coblos semua* atau gercos yang saat ini ramai diperbincangkan di media sosial merupakan refleksi dari kekecewaan publik.
Prof. Siti Zuhro menjelaskan bahwa pernyataan tersebut tidak muncul tanpa alasan yang mendasarinya. "Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Ini merupakan hukum sebab dan akibat. Masyarakat menunjukkan ketidakpercayaan, meskipun tidak semuanya. Komunitas yang mendukung gercos merasa kecewa dan tidak puas. Mereka merasa kompetisi dalam kontestasi pilihan umum ini tidak berjalan dengan adil dan setara. Oleh karena itu, mereka ingin mengekspresikan perasaan ini, ungkapnya saat dihubungi di Jakarta.
Dia menekankan bahwa situasi ini masih dalam tahap perkembangan. Peluang bagi masyarakat untuk memilih di antara tiga pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) mendatang tetap terbuka lebar.
Siti Zuhro menambahkan bahwa keputusan masyarakat dalam menentukan pilihan mereka sangat bergantung pada usaha para pasangan calon untuk turun langsung dan meyakinkan publik agar memilih mereka. Yang terpenting adalah bagaimana masing-masing pasangan calon mendekatkan diri kepada masyarakat dan menjelaskan visi serta misi mereka, sehingga tidak ada asumsi negatif yang berkembang, tuturnya.
Lebih lanjut, penentuan ke mana suara masyarakat akan disalurkan tergantung pada kemampuan calon yang berhasil meraih kepercayaan publik. "Tantangannya adalah apakah Pram-Rano mampu menarik perhatian suara-suara yang cenderung untuk gercos ini. Itu semua tergantung pada cara mereka berkomunikasi," kata Siti.
Di sisi lain, akademikus dan pengamat politik dari Universitas Andalas (Unand), Prof. Asrinaldi, merujuk pada hasil survei yang menunjukkan bahwa Ridwan Kamil masih menjadi figur yang paling kuat di Jakarta. "Dari hasil survei yang dilakukan oleh lembaga yang netral, Ridwan Kamil tetap memiliki daya tarik di Jakarta. Sosoknya masih dapat diterima oleh masyarakat, meskipun tidak sekuat Anies, namun tetap banyak pemilih yang condong kepadanya," jelas Asrinaldi.
Untuk mencegah agar gercos tidak benar-benar terjadi dalam Pilkada 2024, Asrinaldi berpendapat bahwa Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) harus melakukan sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pasangan calon juga harus berperan aktif dalam mengajak pendukung mereka agar tidak terpengaruh oleh gerakan tersebut. "Pengaruh media sosial sangat besar. Oleh karena itu, baik KPU, pasangan calon, maupun partai politik perlu berupaya meyakinkan masyarakat bahwa yang terbaik adalah memilih pasangan calon yang benar-benar mereka sukai dan percayai untuk menjalankan amanah," pungkas Asrinaldi.
ANTARA
Kekecewaan Publik Memicu Fenomena Gercos di Media Sosial
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Raharjati Nursamsa Raih Perak World Climbing Series di Chile
ISPU Kapuas Melonjak dari 1.657 ke 2.406 dalam Sejam, Udara Berstatus Berbahaya
Imam/Fairuz Tempati Peringkat Keempat AVC Suma Open 2026
Kemenperin Bidik Industri Animasi Perluas Penyerapan Tenaga Kerja
Wamenekraf Ajak Pelaku Ekraf Daerah Bidik Pasar Lebih Luas
Gempa Magnitudo 7,0 Guncang Ogasawara Jepang
Komentar (0)
Memuat komentar…







