**Borneonews - Jakarta,** Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, Museum Batik Indonesia menginisiasi upaya untuk mendidik para siswa mengenai nilai-nilai *batik* yang berkelanjutan, dengan fokus pada pemanfaatan serta pelestarian bahan-bahan yang berasal dari alam. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa tradisi *batik* tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Direktur Utama Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Intan Ayu Kartika, menyatakan bahwa batik sebagai unsur budaya yang berkelanjutan sejalan dengan berbagai pilar yang ada di TMII, terutama pilar kebudayaan. "Kami berusaha melestarikan serta mengembangkan budaya *batik* melalui cara yang inklusif dan berkelanjutan, salah satunya adalah edukasi bagi siswa," jelasnya di Museum Batik Indonesia.
Salah satu tantangan yang dihadapi dalam pelestarian *batik* adalah regenerasi para pembatik muda. Untuk mengatasi hal ini, TMII berkolaborasi dengan berbagai sekolah dan menyelenggarakan sejumlah program, termasuk aktivitas membatik, sebagai langkah untuk menjaga warisan budaya tak benda ini. "Kami mengadakan program yang mengunjungi sekolah-sekolah, serta menyelenggarakan kegiatan di museum yang meliputi perayaan dan *event* yang bertujuan untuk meneruskan pengetahuan tentang *batik* kepada siswa," tambahnya.
Di sisi lain, Kepala Bagian Umum Museum dan Cagar Budaya dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Brahmantara, menekankan pentingnya edukasi mengenai *batik* kepada generasi Z, yang merupakan pelopor dalam melestarikan warisan budaya. "Generasi Z sangat penting sebagai bagian dari usaha pelestarian *batik*. Melalui program edukasi yang menyenangkan, kami berharap dapat membangkitkan minat mereka terhadap *batik*," tuturnya.
Sementara itu, penanggung jawab Unit Museum Batik Indonesia, Archangela Y. Aprianingrum, menjelaskan bahwa *batik* memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. "Hampir setiap rumah memiliki setidaknya satu baju atau kain *batik*. Ketika masyarakat merasa memiliki budaya ini, tentu mereka akan berupaya untuk menjaga dan melestarikannya," ungkapnya.
Archangela juga menambahkan bahwa Museum Batik Indonesia terus berupaya membangun komunikasi dan mengedukasi masyarakat agar ikut berkontribusi dalam pelestarian *batik*. "Tidak semua orang harus menjadi pembatik untuk berkontribusi. Seperti yang ditampilkan dalam teater siswa, mereka memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara *batik* tulis dan *batik* *printing*. Setiap individu memiliki peran yang sesuai dengan kemampuannya, yang terpenting adalah dukungan untuk pelestarian *batik* di Indonesia," pungkasnya.
ANTARA
Edukasi Siswa tentang Pelestarian Batik yang Berkelanjutan
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Ganda Campuran China Li/Huang Juarai Indonesia Masters 2026
BPN Berkontribusi Tingkatkan Nilai Ekonomi hingga Rp1.834 Triliun
Kebakaran di Jalan Pahlawan Marabahan, Api Membesar Dekat Sekolah
Pohon Tumbang dan Bangunan Rusak Diterjang Angin Kencang di Banjarbaru
Hujan Lebat Guyur Banjarbaru dan Martapura
Alwi akan Evaluasi Performa Setelah Terhenti French Open
Komentar (0)
Memuat komentar…







