KUPANG –
**Borneonews - So'e**, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengumumkan bahwa bendungan Temef yang baru saja diresmikan oleh Presiden Joko Widodo ini memiliki kapasitas penyediaan air baku sebesar 131 liter per detik. Bendungan Temef dirancang untuk memenuhi kebutuhan air baku bagi masyarakat yang tinggal di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Timor Tengah Utara. Pernyataan ini disampaikan oleh Dirjen SDA Kementerian PUPR, Bob Arthur Lombogia, saat berkunjung ke lokasi bendungan pada hari Rabu. Lebih lanjut, Bob menjelaskan bahwa bendungan ini tidak hanya berfungsi sebagai penyedia air baku, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menyediakan irigasi bagi lahan pertanian seluas 4.500 hektare. Selain itu, bendungan ini juga berperan dalam mereduksi risiko banjir di area seluas 3.750 hektare, serta meningkatkan indeks pertanaman dari 150 persen menjadi 250 persen. "Manfaat yang langsung terlihat adalah kapasitas pengendalian banjir. Untuk irigasi, kami sudah memiliki saluran yang berfungsi dan kami berencana untuk mengembangkan potensi irigasi yang ada," ungkap Dirjen Bob. Ia menambahkan pentingnya optimalisasi fungsi bendungan untuk memberikan hasil yang maksimal. Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara II, Fernando Rajagukguk, menegaskan bahwa bendungan Temef merupakan struktur terbesar yang dibangun di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Keberadaan bendungan ini diharapkan dapat memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat setempat. "Kami berharap, dengan adanya Bendungan Temef, kami bisa meningkatkan produktivitas di sektor pertanian serta memastikan pasokan air baku yang memadai untuk masyarakat. Bendungan ini juga dirancang untuk mengendalikan genangan banjir," kata Fernando. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa NTT saat ini telah memiliki empat bendungan yang selesai dibangun antara tahun 2015 hingga 2024, dengan tujuan utama untuk mengatasi masalah kekeringan di daerah tersebut. Keempat bendungan itu mencakup Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang, Bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu, Bendungan Napunggete di Kabupaten Sikka, dan Bendungan Temef. Selain itu, dijadwalkan juga dua bendungan lainnya yang akan diselesaikan pada tahun depan, yaitu Bendungan Manikin dan Bendungan Lambo yang terletak di Kabupaten Nagekeo. "Kami berkomitmen untuk menyelesaikan proyek tersebut, dan diharapkan bisa rampung tahun depan," tandas Dirjen Bob. Pembangunan Bendungan Temef telah berlangsung selama tujuh tahun, dimulai sejak tahun 2017 dan ditargetkan selesai pada tahun 2024. Dengan luas genangan mencapai 299 hektare, bendungan ini memiliki kapasitas tampungan air hingga 45 juta meter kubik. Presiden Jokowi menyebutkan bahwa setelah pembangunan Bendungan Temef selesai, air di bendungan akan segera terisi dan diperkirakan akan mencapai kapasitas penuh pada Januari 2025. Ia juga berharap agar Bupati setempat dapat memanfaatkan dengan baik keberadaan Bendungan Temef untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Timor Tengah Selatan serta masyarakat di sekitarnya. ANTARA