JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Mantan Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim) Irjen Pol. Purn. Bekto Suprapto menekankan pentingnya sikap polisi yang mengayomi masyarakat dengan penuh kasih sayang, bukan menggunakan pendekatan yang keras atau *iron fist*. Ia menegaskan bahwa esensi dari tugas Polri adalah melindungi dan mengabdi kepada masyarakat. Dalam sebuah dialog bertajuk *Polisi dan Peradaban* yang diselenggarakan oleh Institute Peradaban di Jakarta, Bekto menyatakan bahwa polisi seharusnya bukan hanya dianggap sebagai penegak hukum yang kaku. Lebih dari itu, petugas kepolisian berperan sebagai penjaga nurani bangsa, yang harus peka terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat. Ia berpendapat bahwa fungsi utama polisi adalah sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat. Oleh sebab itu, pendekatan humanis dalam menjalankan tugas menjadi sangat penting. Polisi, sambungnya, juga harus menunjukkan ketegasan dalam menegakkan hukum, namun tetap dalam bingkai kepatutan tanpa menindas. Bekto menekankan bahwa Polri perlu untuk terus melakukan pembenahan dan harus peka terhadap situasi di lapangan. Mereka harus tahu kapan harus bertindak tegas dan kapan saatnya menunjukkan sikap pemaaf dengan penuh kasih sayang sehingga masyarakat merasa aman dan terlindungi. Lebih lanjut, Bekto mengungkapkan harapannya agar Polri melakukan perbaikan dari segi kultural. Ia mengingatkan bahwa meskipun sudah ada perbaikan struktural dan instrumental, perubahan kultural masih belum banyak dirasakan oleh masyarakat. "Reformasi kultural belum berjalan dengan baik, sehingga masyarakat masih melihat Polri sebagai institusi yang tidak berbeda jauh dengan militer," ujarnya. Ia juga menekankan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap Polri perlu dipulihkan agar masyarakat dapat mencintai institusi ini seperti pada masa lalu. Meskipun sejumlah lembaga survei menunjukkan bahwa Polri masih mendapat kepercayaan publik, Bekto mengingatkan bahwa masih banyak sektor yang perlu dibenahi. Di era digital saat ini, ia mencatat bahwa banyak komentar negatif yang mencerminkan pesimisme masyarakat terhadap kepolisian. “Kepercayaan masyarakat kepada Polri harus terus dijalin kembali agar tidak ada lagi sindiran bahwa ketika melaporkan kehilangan kambing, malah hilang sapi,” tegasnya. ANTARA