JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) berupaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam meningkatkan budaya politik di Indonesia melalui penyelenggaraan Seminar Nasional Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi diskusi dan pemikiran kreatif dari berbagai peserta, menurut pernyataan Plt. Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI Eko Margiyono. Dalam sambutannya, Eko menjelaskan bahwa seminar ini bertujuan untuk menghasilkan naskah rekomendasi yang nantinya akan disampaikan kepada para pembuat kebijakan. Naskah ini merupakan hasil konsultasi publik yang mencerminkan berbagai pandangan terkait dengan kebijakan publik yang dibutuhkan saat ini. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Eko mengajak masyarakat untuk bersikap aktif dan kritis dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan politik. Dia meyakini bahwa melalui partisipasi yang lebih besar, budaya politik di Indonesia dapat meningkat, dengan rakyat yang tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga sebagai peserta aktif dalam proses politik. Budaya politik yang diinginkan adalah yang didasarkan pada kesadaran politik yang tinggi dari masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa warga negara tidak hanya memahami hak dan kewajiban politik mereka, tetapi juga berperan aktif dalam mengawasi dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik. Namun, Eko mencermati beberapa fenomena yang menghambat perkembangan budaya politik positif di Indonesia. Isu-isu seperti politik uang, dinasti politik, dan maraknya disinformasi menjelang pemilihan umum menjadi tantangan yang nyata. Dia menekankan bahwa situasi ini menunjukkan rendahnya dukungan masyarakat untuk peningkatan budaya politik demokratis. Lebih jauh, Eko mengingatkan bahwa jika masyarakat bersikap pragmatis dan mengutamakan instan, maka kebutuhan untuk penguatan budaya politik di Indonesia akan mengalami kendala. Perilaku semacam ini, menurutnya, akan berdampak pada perilaku politik yang terjadi baik di kalangan elite maupun masyarakat luas. “Kesulitan dalam melahirkan pemimpin yang berintegritas akan terus ada jika pragmatisme politik dibiarkan berkembang,” ungkap Eko. Dalam konteks ini, penting bagi masyarakat dan pemimpin untuk bersama-sama menciptakan iklim politik yang sehat dan berintegritas demi masa depan yang lebih baik. ANTARA